Hasil Pengembangan, Oknum Polisi Majene itu Sengaja Lakukan Tembakan

0 Komentar

FAJAR.CO.ID,MAROS– Penyidik Satreskrim Polres Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), nyaris menjadi bulan-bulanan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Maros.

Hal inj terjadi setelah oknum kepolisian dari Polres Majene diduga melakukan penembakan di dalam Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kabupaten Maros.

Informasi yang dihimpun menyebutkan jika kronologis penembakan ini diduga terjadi saat tiga orang penyidik Polres Majene melakukan pengembangan kasus tindak pidana penipuan dengan modus menggunakan media sosial yang mencatut nama Kapolres Majene, AKBP Asri Effendy.

Dimana dugaannya kasus ini dikendalikan dari dalam Lapas kelas IIA Maros.

Tetapi saat sementara melakukan penyelidikan terhadap napi, Saiful, Nur dan Ibrahim oknum Kasat Reskrim Polres Majene, AKP Pandu Arief Setiawan diduga melepaskan tembakan di sekitar lapangan  Lapas Maros. 

Dimana tembakan peringatan sebanyak dua kali dilakukan setelah oknum Kasat Reskrim mendapat telepon dari penyidik yang sementara melakukan penggeledahan di blok napi yang diduga terlibat kasus ini. Penyidik ini terjebak diantara kerumunan napi. Napi tersebut bahkan meneriakkan kata-kata “bunuh polisi, bakar polisi.”

Salah seorang warga binaan, Rudi alias Kuda mengatakan jika kejadiannya sore hari.

Dimana para warga binaan tengah sibuk  antre untuk mandi dan sebagiannya lagi sedang salat. 

“Jadi dia menjemput temannya yang ada di blok. Dia membawa senjata, menembak baru kita lagi tunggu air ini. Dia langsung marah-marah dan bilang kalau temannya di massa, padahal tidak diapa-apa. Hanya disuruh keluar. Sehingga ia menembak dua kali,” katanya.

Bahkan ia mengaku mendapat perbuatan tak menyenangkan dari oknum polisi. saat ditegur untuk tidak menembak.

“Sekitar enam kali menembak. Dia juga sempat menembak ke samping mengarah ke masjid. Pas ditelinga kiri saya, jadi saya tegur. Tapi saya dipukul pakai gagang pistol. Sampai dada saya memar,” aku Rudi yang saat itu membawa ember dan mengantre mengambil air.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Maros, Indra S Mokoagow membantah adanya dugaan penganiayaan atau pengeroyokan oleh napi terhadap tiga orang penyidik Polres Majene ini.

Pasalanya prose pemeriksaan awalnya berjalan lancar sampai akhirnya terjadi aksi penembakan dan membuat napi keluar dan terjadi aksi kejar-kejaran dan pelemparan.

“Mendengar tembakan itu semua warga binaan yang tadinya tidak tahu menjadi tahu. Mereka kemudian keluar ke blok karema mendengar tembakan dan secara  spontan ambil batu dan melempar ke penyidik itu. Sehingga terjadilah kejar-kejaran, oknum polisi terjatuh dan terjadilah pelemparan-pelemparan. Jadi tidak ada pengeroyokan,” bantahnya. 

Kejadian itu berlangsung lima menit, selanjutnya diamankan kemudian selesai.

Dia mengatakan dari pihak Lapas tak ada yang mengalami luka. Sementara tiga anggota polisi luka karena terjatuh. 

“Bukan dipukul ataupun dikeroyok. Lukanya juga karena terjatuh saja. Jadi semuanya selamat, tidak ada yang sampai patah tulang,” sebutnya.

Dijelaskan Indra, salah satu Standar Operasional prosedur (SOP) yang ditetapkan di Lapas Kelas IIA Maros, siapapun dilarang membawa senjata ke dalam lapas.

Olehnya itu dia menyayangkan tindakan Kasat Reskrim Polres Majene yang membawa senjata jenis pistol saat memasuk area lapas Maros. 

“Kalau berdasarkan SOP yang berlaku di tempat ini, memang tidak dibenarkan untuk membawa senjata. Jangankan tamu, petugas sipir saja tidak dibolehkan membawa senjata. Karena memang itu dianggap membahayakan,” pungkasnya. (rin)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment