Koperasi Eksis Berkawan Teknologi

0 Komentar


Penulis: YUSRIADI

MAKASSAR, FAJAR — Tak sedikit koperasi tergerus perkembangan Informasi dan Teknologi (IT). Namun Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Bakti Huria, mampu bertahan dengan menjadikan IT sebagai kawan.

SAFARUDDIN awalnya sangat susah mendapatkan pinjaman. Warga Sudu, Kabupaten Enrekang, Sulsel itu selalu ditolak ketika mengajukan kredit. Hingga akhirnya ini berhasil mendapatkannya dari KSP Bakti Huria. 

Kredit awal Safaruddin sebesar Rp20 juta. Dana itu dijadikan modal untuk membiayai kebun bawang merah miliknya. Sukses, kini ia dikejar banyak pembiayaan yang mengajukan pemberian kredit kepadanya. 

Hanya saja, Safaruddin menolak. Ia terlanjur setia dengan KSP Bakti Huria. Lima tahun jadi anggota, kredit Safaruddin kini sudah mencapai Rp120 juta. Ansuranya selalu lancar. 

Itu hanya salah satu kisah. Ada banyak cerita lain dari anggota KSP Bakti Huria yang sukses berkat bantuan modal. Apalagi, mereka dimanjakan dengan aplikasi yang makin memudahkan pelayanan. 

Koperasi yang berdiri sejak 2003 tersebut, mulai mengusung IT dalam pelayanannya sejak 2007 silam. Tak henti-hentinya berinovasi, hingga KSP Bakti Huria mampu menyamai pelayanan perbankan dan pembiayaan modern lainnya. 

Manager IT, KSP Bakti Huria, Haeril Aswan menyampaikan, setidaknya kini mereka menggunakan dua aplikasi untuk pelayanan IT. U-Mobile dan ANGGOTAKU. 

“U-Mobile yang tersambung secara lansung (online) dengan komputer di kantor cabang terdekat, sehingga untuk transaksi setoran tabungan dan angsuran pinjaman yang dilakukan oleh para CMO/FMO dapat dilakukan secara real time online ke data base KSP Bakti Huria,” jelas Haeril di kantornya, Selasa, 8 Oktober. 

Sementara aplikasi ANGGOTAKU, lanjut Haeril digunakan para anggota koperasi untuk transaksi. Misal cek saldo, kemudian pembelian pulsa, token listrik, serta kebutuhan lainnya. 

Ketua KSP Bakti Huria, Andi Amri melanjutkan, ia memang fokus untuk penerapan teknologi. Menurutnya, hanya koperasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman yang akan bertahan dan tetap eksis. 

“Yang paling terpenting, koperasi itu harus menjalankan prinsip dasarnya. Dari anggota, kemudian untuk anggota. Jadi pengelola harus mampu memenuhi kebutuhan anggotanya,” jelasnya. 

Perkembangan KSP Bakti Huria memang cukup melejit. Modal awal Rp500 juta, kini nilai asetnya mencapai Rp90 miliar. Setiap bulannya, ada perputaran omzet sekitar Rp5 miliar sampai Rp10 miliar. 

Saat ini, KSP Bakti Huria punya anggota tetap sebanyak 3.000 orang lebih. Sementara untuk jumlah akun yang masuk dalam aplikasi kini sudah 12 ribu orang lebih. 

Amri melanjutkan, bukti lain jika koperasi yang ia pimpin melek teknologi yakni dengan pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) 2018 lalu secara online. Jadi seluruh anggota diberikan waktu selama 10 hari, untuk merespons Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dan Program Kerja (Proker) pengelola. 

Hasilnya, dari 3.000 lebih anggota tetap, yang berpartisipasi pada RAT online itu tercatat sebanyak 2.100 orang. “Jadi mereka bebas memberikan masukan dan kritikan. Makanya aspirasi dari anggota itu tertampung dengan baik,” jelas Amri.

Sentuh yang Tidak Tersentuh

DALAM menjalankan operasinya, KSP Bakti Huria lebih banyak bergerak di pedesaan. Koperasi ini ingin memberikan layanan pembiayaan atau modal usaha bagi mereka yang tidak tersentuh perbankan. 

Itu pula yang membuat koperasi ini membuka 24 cabang di Sulsel. Ketua KSP Bakti Huria, Andi Amri ingin, semua masyarakat bisa terlayani dengan baik. 

“Koperasi itu juga harus fleksibel. Harus mampu menjawab dan memenuhi kebutuhan anggotanya. Itu bedanya dengan pembiayaan modern lainnya,” tegas Amri. 

Saat ini, KSP Bakti Huria juga tengah proses migrasi ke syariah. Kata Amri, hal itu sebagai upaya untuk menyesuaikan dengan kebutuhan dan pembiayaan yang ramah terhadap masyarakat. 

Lompatan lainnya, koperasi ini juga tengah menggagas  penerapan ID Core. Fungsinya tak jauh beda dengan BI Checking. Semata untuk memproteksi, agar pemberian kredit lebih aman dan terjamin. 

Selain terus berinovasi dan beradaptasi dengan teknologi, Amri tak melupakan peningkatan SDM karyawan. Baginya, tak ada gunakanya sistem IT yang lengkap dan bagus tanpa pengelola yang punya integritas. 

“Makanya kami tidak segan investasi untuk penguatan kualitas SDM. Kemampuan karyawan harus diperbaharui setiap saat,” terangnya. 

Sementara itu, Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah sangat mendukung eksistensi koperasi. Ia tidak ingin koperasi tergerus bank dan pembiayaan modern lainnya.  “Koperasi harus terus tumbuh dan menebar manfaat untuk masyarakat Sulsel,” harapnya. 

Menjawab keinginan gubernur, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sulsel, Malik Faisal kini tengah fokus untuk pendampingan kelembagaan koperasi. Menurut dia, tiap OPD diminta melakukan pendampingan khusus pada koperasi yang eksis saat ini. 

“Termasuk memberikan pelatihan untuk penguatan kelembagaan. Pendampingan untuk penerapan IT juga dilakukan, agar koperasi bisa beradaptasi dengan kemajuan zaman,” jelas Malik. 

Saat ini, masih ada 8.000 lebih koperasi yang beroperasi di Sulsel. Namun tak sedikit pula yang tutup.  Yang sudah besar, akan mendapat dukungan, baik pelatihan maupun anggaran. “Yang akan bertumbuh pun, akan terus disokong oleh pemerintah,” kunci Malik. (*)

INFO GRAFIS
KSP Bakti Huria Jawab Tantangan Zaman
*Produk IT: U-Mobile—ANGGOTAKU—-ID Core (on progres)

*Modal awal: Rp500 juta

*Nilai aset saat ini: Rp90 miliar

*Omzet sebulan: Rp5 miliar sampai Rp10 miliar

*Anggota tetap: 3.000 orang lebih

*Terdaftar pada akun (calon anggota) 12 ribu orang

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment