Abdul Rauf, Seniman Mural Makassar, Bukan Pelukis, tetapi Bisa Melukis

0 Komentar

Pelukis mural Lacapila berdiri di lukisan yang digambarnya di Jl Maccini Senin, 7 Oktober. TAWAKKAL/FAJAR

Karya Abdul Rauf, kini menjadi objek foto. Senang ia. Tapi, jangan bilang dia pelukis.

Laporan: Rudiansyah

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR –– Rauf merasa, disebut sebagai pelukis terlalu berlebihan. “Orang ji bilang saya pelukis. Saya bukan lah pelukis. Saya masih belajar,” katanya saat ditemui dikediamannya, Senin, 7 Oktober 2019.

Baginya, seorang pelukis bisa disebut pelukis, jika karyanya terjual. Bahkan, lukisannya diakui mancanegara. “Itu baru pelukis. Kalau saya hanya bisa melukis, bukan pelukis,” tuturnya sembari menatap kanvas yang sementara digambarnya.

Bukankah Mural di Jalan Suka Damai, RT01 RW04, Kelurahan Sinrijala, Kecamatan Panakkukang, cukup mewakili sebuah karya Bapak? Baginya lorong swafoto itu belum cukup. Lagi-lagi, ia bilang masih dalam proses belajar.

Pria berusia 50 tahun itu, menggambar pemandangan, hewan, dan hiruk pikuk perkotaan tiga dimensi di dinding jalan itu. Panjangnya sekitar 10 meter, dengan waktu sekitar tiga pekan.

“Saya menggambar untuk kelurahan. Kalau mau jujur, lomba lorong Pemkot bekerja sama dengan FAJAR dan Cat Emco lah membuat saya kembali menggambar,” ukunya.

Gemar menggambar memang dimulai sejak SMP. Hanya saja, menjadi pelukis di Kota Daeng belum mendapat perhatian khusus. Karyanya banyak tinggal. Peminatnya sangat minim.

Karenanya, kegiatan menggambar lama dihentikan. Apalagi, ada istri dan empat anak yang harus dihidupi. Menyandarkan keahlian menggambar sangat sulit.

“Jadi saya melukis berdasarkan pesanan. Kalau tidak ada pesanan, saya tidak melukis. Oh iya, yang saya lukis ini pesanan teman,” ungkapnya tersenyum.

Lukisan pemandangan di pedesaan itu sudah lima hari dikerjakan Rauf. Kuas bercatnya dimainkan sejak pagi hari, hingga malam hari. Sungguh pekerjaan yang melehkan.

Akan tetapi, baginya, melukis tidak melelahkan sama sekali. Karena, ada perasaan yang ditumpahkan di kanvas. “Melukis membuatku lupa waktu makan. Itu karena terlalu nyaman,” katanya lagi.

Rauf mendapat kepercayaan dari masyarakat untuk mengemban Ketua RT01 RW02, Kelurahan Sinrijala, Kecamatan Panakukang. Melahirkan generasi muda yang suka melukis, sangat diinginkan.

Utamanya anak milenial disekitar lingkungannya, tak jauh dari SD Inpres Karuwisi II. “Tapi ini sulit. Anak saya saja tak ada yang bisa memainkan warna,” ungkapnya.

Ia memiringkan kopiah bulatnya ke kanan. Lalu menatap cucunya. “Anak muda perlu tahu, mural (menggambar di dinding), melukis, dan membuat kaligrafi merupakan ungkap pikiran. Bisa jadi kritikan,” tuturnya.

Ternyata yang disampaikan Rauf berkaitan erat dengan apa yang disampaikan Pablo Picasso, seniman mural asal Prancis. Bahkan disebut sebagai pembuat mural pertama di zaman prasejarah.

Guernica atau Guernica y Luno, nama mural yang dibuat Pablo Picasso. Mural yang dibuat saat terjadinya peristiwa perang sipil di Spanyol, 1937.

Banyak yang bilang, ia membuat mural itu, agar seluruh masyarakat memperingati peristiwa pengeboman yang dilakukan tentara Jerman yang terjadi di sebuah desa kecil, Spanyol.

Meski begitu, mural kini menjadi keahlian yang bisa diandalkan. Pengakuan Rauf, sudah banyak lorong yang digambar dan mendapat upah. Cukup untuk bertahan hidup.

Tak hanya dinding lorong, dinding rumah, kamar, dan restoran juga dipercantik dengan gambar mural. Hal ini menjadi lahan pendapatan bagi seniman mural. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment