BPN Wajo Mulai Proses Lahan Sengketa di Bendungan Paselloreng


FAJAR.CO.ID, SENGKANG — Sejumlah masyarakat Desa Paselloreng Kecamatan Gilireng, Wajo, mendatangi Gedung DPRD Wajo, Rabu, 9 Oktober kemarin. Mereka mengeluhkan kinerja Badan Pertanahan Nasional (BPN) Wajo dalam membebasan lahan megaproyek Bendungan Paselloreng.

Hal tersebut diutarakan Andi Amiruddin. Kata dia, tanah adat nenek moyangnya, Puang Bolong sekitar 184,915 m2 atau 18,4 hektare yang berada di area genangan Bendungan Paselloreng, sementara dalam proses pembebasan lahan oleh BPN Wajo.

“Padahal tanah itu bersengketa dengan masyarakat dari Desa Minanga Tellue Kecamatan Maniangpajo, yang ikut mengklaim,” ujarnya.

Namun, kata Amir sapaannya, BPN Wajo sebagai panitia pengadaan tanah meloloskan berkas masyarakat di Minanga Tellue untuk pembebasan lahan. Hal tersebutlah yang dikeluhkan, karena dinilai secara sepihak.

“Itu yang menjadi pertanyaan kami, kenapa tanah bersengketa, kemudian meloloskan berkas untuk satu nama. Kita juga punya berkas, berhak untuk tanah tersebut,” ucapnya.

Terlebih, tambah dia, sebelum ada pembangunan Bendungan Paselloreng pihaknya mengelola tanah itu. Namun saat dilakukan pengukuran untuk pembebasan tidak terakomodasi.

“Sampai sekarang belum ada kesepakatan. Tetapi BPN Wajo proses pembebasan tanah itu,” tuturnya.

Sementara, Kepala BPN Wajo Sa’pang Allo menuturkan, lahan tersebut diproses untuk pembebasan, karena pihak masyarakat Minanga Tellue memiliki bukti kepemilikan secara formal.

“Tetapi kita serahkan dulu ke pemerintah desa Minanga Tellue untuk dimediasikan. Karena kedua pihak ini satu rumpun keluarga,” ucapnya.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...