‘Merasakan’ Tragisnya Kehidupan Sang Badut

Oleh Jeri Wongiyanto

FAJAR.CO.ID-- Pecinta dan Pengamat FilmSAYA agak terlambat mereview film ini,  sudah banyak penonton Indonesia yang sudah menyaksikan bahkan ikut merasakan suramnya kehidupan Joker. Tapi saya akan tetap menulis film yang memang brillian dan bagusnya kebangetan ini. 

Memang butuh kesiapan mental untuk menonton film ini. Penonton harus bersiap melihat kenyataan hidup Arthur Fleck (Joaquin Phoenix)  yang akan terasa begitu nyata. Sutradara Todd Philips benar-benar membuat film “Joker” sebagai hiburan yang tidak mudah dicerna begitu saja.Konflik politik yang manipulatif, konflik sosial dengan masalah kejiwaan, benturan antar kelas dan golongan  ditampilkan Todd begitu nyata dan gamblang, seperti menampar dengan sangat  keras kehidupan manusia yang sebenarnya.

Joker menampilkan perjalanan kejiwaan seorang pria bernama Arthur Fleck. Bermula seorang yang tertindas menjadi penjahat berdarah dingin yang tidak merasakan apa-apa ketika ia membunuh dan mencabut nyawa seseorang. Butuh kedewasaan berpikir untuk menyerap pesan dari film ini. Jadi sebaiknya, mematuhi peringatan dari Badan Sensor Film untuk klasifikasi usia tontonan, bahwa Joker memang hanya dibuat untuk 17 tahun ke atas.

Arthur Fleck adalah komedian gagal yang hidup di era Gotham City berada di titik kronis, penuh ketimpangan, kejahatan dan kemarahan pada 1980-an.  Arthur senantiasa berusaha berbuat baik, apalagi ia sebagai badut yang harus menghibur banyak orang, meski kata sempurna jauh dari kehidupannya. Arthur juga memiliki masalah kejiwaan, ia kerap kali tak bisa menahan tawa yang kadang datang tiba-tiba. Kadang ia berusaha menahan tawa yang meledak dalam tangisnya. Hal ini membuatnya harus berobat dan rutin berkonsultasi dengan pekerja di dinas sosial dan kesehatan demi mendapatkan obat.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : hamsah


Comment

Loading...