Petani Kembali Menjerit Gara-gara Harga Sawit

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MASAMBA — Petani sawit di Kabupaten Luwu Utara resah dengan memburuknya harga tandan buah segar (TBS). Harga sawit di tingkat pabrik turun dari Rp851. menjadi Rp805.

Petani Sawit Luwu Utara, Mahmuddin menyesalkan memburuknya harga sawit. “Kalau harga sawit di tingkat pabrik hanya Rp805. Maka di tingkat petani tinggal Rp350,” kata Mahmuddin kepada FAJAR, Sabtu, 11 Oktober 2019.

Dia menjelaskan, harga sawit yang baru sangat merugikan petani. Biaya panen sangat besar. Per kilogram mencapai Rp200. Artinya, setiap kilogram hanya Rp150 yang disisakan bagi petani.

Petani sawit di Malangke, Malangke Barat, Sabbang, dan Bone-bone akhirnya beralih ke kakao dan sawah untuk tanam padi. “Luas lahan yang dialihkan mencapai 100 hektare lebih,” paparnya.

Anggota DPRD Luwu Utara, Yusuf Paembonan, mengakui ada penurunan harga sawit. “Ini karena tim penetapan harga bentukan gubernur tidak berpihak ke petani sawit,” kata Yusuf.

Dia menuding tim yang terdiri di Dinas Perkebunan Sulsel, Dinas Pertanian Luwu Utara, Apkasindo, dan Apindo hanya berpihak ke pengusaha. Makanya, harga tidak kunjung membaik. Malah makin melemah. Aturannya, dalam Permentan nomor 1 tahun 2018 tentang tata cara penetapan harga.

Di mana pengusaha harus transparan soal biaya produksi dan biaya penjualan CPO dan Carnel. Lalu hasil penjualan ini diketahui jumlah selisih. Itulah harga sawit.

Selama ini hanya dijelaskan secara umum. Rapat penetapan harga ini awalnya disepakati di Masamba. Namun, tiba-tiba dipindahkan ke Makassar. ”Ini mencurigakan. Pasti tidak ingin diketahui petani,” paparnya.

Kadis Pertanian Luwu Utara, Armiadi, enggan menanggapi hal tersebut. ”Tanyakan ke kabidnya,” ujarnya. (shd)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...