Nasib Warga Terisolasi di Pesisir Pangkep, Infrastruktur Publik Sebatas Angan-angan

0 Komentar

Sebanyak 300 lebih kepala keluarga yang bermukim di Kampung Bohe, Kecamatan Ma’rang Pangkep, hidup serba sulit. Mereka jauh dari ketersediaan infrastruktur.

Sakinah Fitrianti
Pangkep

PADAHAL, kampung ini masuk dalam wilayah Kelurahan Talaka, Kecamatan Ma’rang. Artinya, cukup dekat dari akses pemerintahan. Namun, faktanya, mereka seperti terputus dari sarana sekelas daerah kelurahan.

Bahkan, untuk mencapai kampung ini, harus dengan berjalan kaki melewati pematang tambak. Cara lainnya, dengan menumpang perahu milik warga setempat. Hanya butuh waktu 25 menit dengan melalui Sungai Limbangan, sementara butuh waktu dua jam untuk berjalan kaki.

Waktu 25 menit tak terasa di perjalanan dengan menumpang perahu kecil yang hanya muat enam orang itu. Sebab, sepanjang perjalanan disuguhkan dengan keindahan deretan pohon mangrove. Pohon-pohon itu sangat indah menemani perjalanan, menyusuri sungai untuk sampai ke Kampung Bohe.

FAJAR sempat mendatangi kampung ini, saat tiba, penulis diterima seorang warga daeng Siga. Dia lalu menceritakan mirisnya kehidupan di kampungnya. Sudah puluhan tahun, kondisinya seperti itu. Tidak pernah ada perubahan. Masyarakat di Kampung Bohe seakan terisolir, sebab tak ada fasilitas umum yang membantu. Bahkan sarana ibadah pun tak ada.

Tidak hanya itu, air bersih juga sangat sulit diperoleh. Mereka harus membeli air bersih tiap hari untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tiap hari harus membeli air dengan harga Rp1.000 per jeriken.

“Harapan kami hanya air hujan saja. Kalau musim kemarau, setiap hari kami pagi-pagi membeli air di kampung seberang. Tiap hari kebutuhan air itu samlai 10 jeriken yang kami gunakan,” bebernya.

Listrik pun seperti itu, mereka mengandalkan genset untuk penerangan. Itupun hanya bisa dari pukul enam sore hingga pukul 10 malam. “Sulitnya juga listrik kita pakai genset. Itu pun kami mampu hanya satu liter saja tiap hari,” ungkapnya.

Kondisi paling parah saat datang kemarau panjang, seperti saat ini. Air tambak yang ada depan rumah-rumah panggung juga sudah mengering. Bersisa tanah tambak saja. Tak ada ikan ataupun air lagi dalam tambak tersebut. Kekeringan sangat dirasakan warga di pesisir ini.

Senada dengan itu, Firman warga lain di kampung tersebut mengaku hampir semua fasilitas umum tidak ada di kampung tersebut. Mulai dari kamar mandi, air, masjid, sekolah, pustu hingga pasar. Tidak mengherankan jika anak-anak di kampung tersebut semangatnya untuk bersekolah kurang.

Rahmat Hidayat, warga Kecamatan Ma’rang yang datang bersama komunitas literasi Pangkep, Titik Mula mengaku sangat prihatin melihat kampung ini. “Semua fasilitas tidak tersedia. Harusnya pemerintah bisa memperhatikan mereka. Setidaknya kamar mandi dan masjid menjadi prioritas pertama,” bebernya. (*/arm-taq)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...