Komitmen Negara

0 Komentar

Oleh Aidir Amin Daud

FAJAR.CO.ID– Dari Pacitan Jawa Timur pekan kemarin beredar sebuah tayangan video yang memperlihatkan dua pelajar perempuan menaiki alat berat eskavator —dibagian bucket-nya — untuk menyeberangi sebuah sungai yang jembatanya sedang dibangun. Adegan yang berlangsung sekitar semenitan itu —memang kelihatan cukup menggembirakan bagi kedua pelajar itu —bagaimana mereka diangkut oleh lengan eskavator itu dari satu titik ke titik lain di seberang sungai. Video ini kemudian menjadi viral di media sosial dan sudah disaksikan ribuan orang.

***

Tak hanya di Pacitan —kisah anak sekolah menyeberangi sungai dengan berbagai tantangannya selalu kita dengarkan dari berbagai penjuru tanah air. Termasuk di kawasan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Namun, tak semua kisah-kisah itu terangkat di media baik mainstream maupun media sosial. Sekitar akhir  tahun 2018 misalnya —tentu bukan ini satu-satunya kejadian di Sulbar — puluhan siswa sekolah TK, SD, dan SMP, di Desa Amola, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, dalam masa ujian semester harus berjuang harus menyeberangi sungai Amola yang arus aliran airnya sedang deras-derasnya. Arus Sungai Amola, yang sewaktu-waktu dapat menghanyutkan mereka jika tidak berhati-hati saat menyeberang. Infrastruktur jembatan penghubung antardesa yang tidak tersedia memaksa para siswa tersebut harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai demi sampai ke sekolah. Setiap hari, mereka melakukan itu lantaran tidak ada jalan alternatif yang lebih dekat ke sekolah. Begitu pemberitaan media di Desember 2018 itu.

Bulan-bulan sebelumnya di tahun yang sama —moga-moga sudah teratasi saat ini —puluhan anak yang tinggal di Desa Bonto Matinggi, Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, harus berjuang menyeberangi sungai dengan arus yang cukup deras. Mereka menyeberangi sungai kala berangkat dan pulang sekolah setiap hari. Jika musim hujan, air sungai naik dan arusnya semakin deras. Saya berharap kisah ini tak terulang lagi.

Banyak kasus begini di Sulsel. Saya mengutip satu lagi yang menjadi viral di akhir Mei 2018 — bagaimana bocah-bocah pemberani siswa dan siswi SD 193 Jenna menyeberangi sungai untuk berangkat sekolah di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Di video berdurasi 6 menit 12 detik itu terlihat sejumlah pelajar sekolah dasar dibantu beberapa pria dewasa bergandengan tangan menyeberangi sungai berarus deras dengan mengandalkan batang pisang kering sebagai pelampung. Saya yakin ini juga tak ada lagi di Sinjai.

***

Kita selalu miris mendengar kisah itu. Apalagi jika fasilitas untuk penyelenggara negara — termasuk fasilitas perjalanan dinas yang berlebihan — nampak berlebihan, padahal infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat masih begitu banyak. Sudah seharusnya — ada standar-standar kewajiban-kewajiban dasar yang dipenuhi seorang bupati, walikota dan gubernur — sebelum mereka menikmati fasilitas negara. Apalagi yang berlebihan. Supaya terasa kehadiran negara di sudut manapun di negeri ini.  Komitmen negara. **

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...