Bank Minyak Jelantah KBA Burasa’, Bernilai Ekonomis dan Ramah Lingkungan

0 Komentar

Minyak jelantah. (FOTO: NURHADI/FAJAR)

Tak baik menggunakan minyak goreng berulang-ulang. Bisa merusak kesehatan. Bank Minyak Jelantah menukarnya dengan minyak murni.

MUHLIS MAJID
Makassar

Bank Minyak Jelantah Kampung Berseri Astra (KBA) Burasa’ terletak di lorong yang tak begitu luas dan sederhana di kawasan Jalan Honda Scoopy Kelurahan Rappocini, Kecamatan Rappocini Kota Makassar.

Tampak seorang pengurus sibuk merapikan buku tabungan para nasabah. Dia memastikan tak salah catat isi tabungan.

Namanya Haje Dana. Di bank ini, dia setiap hari menunggu dan melayani nasabah. Para nasabahnya juga kebanyakan ibu berdaster.

Sesuai namanya, Bank Minyak Jelantah Kampung Berseri Astra (KBA) Burasa’ tak melayani transaksi uang. Nasabah membawa minyak bekas hasil penggorengan. Haje menukarnya dengan minyak baru dalam kemasan.

Puluhan jeriken besar berisi minyak berjejer rapi. Bank itu ramai dengan antrean ibu-ibu yang akan menimbang minyak bekasnya, saat FAJAR bertandang ke bank minyak tersebut, Minggu sore, 13 Oktober.

Ada yang membawa minyak dalam jeriken besar, ada pula yang hanya botol kecil. Tentu saja mereka pulang dengan minyak yang baru.

Ada juga nasabah yang lebih memilih menabung sampai banyak. Supaya minyak yang bisa diperoleh juga lebih banyak.

Di bank minyak jelantah tersebut, warga memang bisa menabung minyaknya hingga dalam jumlah yang banyak. Bank ini menyediakan tabungan khusus.

Hitungannya, 1 kilogram minyak bekas dihargai Rp2.500. Nah, untuk bisa menukar dengan minyak baru, membutuhkan minyak jelantah minimal 1,5 liter. Satu kemasan cup minyak seharga Rp3000.

“Makanya lebih bagus ditabung. Misalnya tabungan sudah 3 kilogram, sudah bisa mendapat tiga cup minyak baru,” kata Haje’.

Nasabah bank minyak bekas, beber Haje’ sudah puluhan orang. Tak hanya warga setempat, orang luar pun banyak yang masuk.

Bahkan, salah satu ketua RW di kelurahan ini ikut aktif menukar. Ketua RW 4 bernama H Yusuf, selalu menyetor dalam jumlah yang sangat banyak.

Yusuf menjadikan bisnis dengan cara mengumpulkan minyak warganya. Lalu, ia bawa sendiri ke bank untuk ditimbang.

Untuk menarik nasabah, pengurus bekerja sama kelurahan melakukan sosialisasi rutin kepada warga. Terkait bahaya menggunakan minyak berulang, dampak lingkungan serta manfaat Bank Minyak Jelantah

Haje’ membeberkan, Bank Minyak Jelantah ini mulai dijalankan September 2018 lalu.
Program penukaran minyak jelantah dengan minyak baru ini dihadirkan Astra bekerja sama perusahaam Gen Oil.

Gen Oil inilah yang mengambil minyak bekas dari nasabah Bank Minyak Jelantah. Perusahaan yang hadir 2014 lalu ini telah menjadi mitra masyarakat dalam penguraian minyak jelantah menjadi produk ramah lingkungan.

Minyak jelantah tersebut disulap menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis biodiesel. Hasilnya kebanyakan digunakan untuk menggerakkan mesin-mesin bermotor diesel.

“Seperti kapal nelayan, truk, pembangkit listrik dan mesin-mesin industri,” beber penemu inovasi tersebut, Andi Hilmy Mutawakkal.

Bank Minyak Jelantah yang terletak di lorong 3 Jalan Honda Scoopy, Kelurahan Rappocini, Kecamatan Rappocini Makassar, telah dirasakan betul manfaatnya oleh masyarakat.

Selain memberikan nilai ekonomi, kesadaran masyarakat akan kesehatan dan lingkungan kian meningkat.

Sebutlah, Farida (47), seorang ibu rumah tangga yang telah menjadi nasabah selama setahun. Dia mengaku tidak pernah lagi menggoreng dengan minyak yang berulang.

Bekas minyak penggorengannya juga tak pernah dibuang lagi. Dia simpan untuk dibawa ke Bank Minyak Jelantah.

Hampir setiap dua pekan sekali, Farida menyetor minyak bekasnya. Hasilnya, sudah jarang membeli minyak lagi.

“Daripada saya buang, mending saya tukar. Segi ekonomi juga menghemat,” katanya. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...