Menjumpai Orang Besar

0 Komentar

Oleh: Hamdan Juhannis

FAJAR.CO.ID– Kali ini tentang siapa yang dimaksud sebagai ‘great people‘. Setiap berhadapan seseorang dengan ketokohan yang tinggi, apakah dari sisi ketokohan formal semisal birokrat atau politisi, atau ketokohan informal semisal Kiai atau kepala suku, yang terpatri dibenak saya adalah pertanyaan tentang hal yang dimilikinya yang mengantarnya bisa sampai pada titik itu.

Saat memiliki kesempatan berbicara dengan seorang figur berpengaruh, saya menaruh baik rekaman penasaran saya, karena dengan berdialog saya ingin menakar apa yang saya bisa saya tangkap dari pembicaraannya. Saat tidak bisa berbicara dengannya, sudah pasti saya akan menyimak pidato maupun ungkapannya dan menempatkan gagasan-gagasannya dalam koridor ketokohannya. Tentu saya juga berusaha untuk mengetahui tapak jejak tokoh tersebut yang lebih mudah didapatkan di era terbuka seperti sekarang ini.

Tapi ada sesuatu takaran subyektif yang ingin saya tangkap secepatnya saat berhadapan dengan tokoh berkaliber. Kualitas apa saya bisa simpulkan dari orang itu yang membuatnya bisa sampai pada maqam kebesaran seperti itu.

Pertama, saat menyapa saya selalu ingin mendapat kesan bahwa cukup bersahabatkah dirinya? Tentu wajib untuk selalu menyandingkan keramahan dengan penerimaan publik. Karena semakin ramah seseorang itu, pastinya semakin menyenangkan dan semakin memiliki ruang untuk beraktualisasi. Saat saya menemukan orang besar saat bersalaman dan tidak berusaha melihat wajah saya, apakah karena saya orang biasa di matanya atau tidak dikenalnya, saya langsung bergumam dalam hati, mungkin ada yang lain yang dimilikinya bisa sampai pada posisi itu, salaman saja tidak menunjukkan simpati?

Kedua, Saya juga selalu ‘ngebet’ bagaimana diri tokoh itu memainkan situasi di sekitarnya. Misalnya, saat menerima telepon, tiba-tiba ada orang yang menyapanya karena dia figur, seperti apa dirinya memperagakan keseimbangan komunikasi online dan percakapan offlinenya. Tidak jarang saya melihat ada orang yang kalau sibuk berbicara di Hp, dia hanya salaman, tanpa memperhatikan siapa orang itu, atau langsung bisa berbicara dengan orang di sekitarnya tanpa memberi sinyal pada teman telponnya kalau dia berbicara dengan orang lain. Kadang saat saya melihat orang besar seperti ini, muncul keraguan saya tentang derajat kebesarannya.

Ketiga, saya selalu tertarik mengetahui apa pandangannya tentang orang-orang di luar dirinya. Sering saya melihat seseorang yang tidak pernah terdengar punya musuh, tidak pernah mengategorikan kalau yang satu temannya, yang lain lawannya. Dirinya tidak tertarik mengklasifikasi kelompok berdasarkan like and dislike. Meskipun sering juga terdengar dari luar kalau orang ini memiliki preferensi dengan orang tertentu atau diketahui kalau tidak sedang ‘mesra’ dengan orang tertentu. Mungkin sisi itulah yang menjadi penjelas dari kefigurannya. Dia tidak begitu mudah menempatkan bahwa orang lain begitu buruk dalam kehidupannya, atau mampu menyembunyikan rasa permusuhannya.

Satu lagi derajat yang sering ingin saya dapatkan dari seorang tokoh, adalah kemampuannya mengendalikan emosi melalui sikap yang ditunjukkannya. Termasuk kemampuan meramu bahasa kekecewaannya kepada orang lain. Saya tertarik bukan pada tidak pernahnya seseorang itu marah, tapi yang menarik bagi saya, bagaimana caranya mengekspresikan kemarahannya. Karena sebagai tokoh selalu saya berharap untuk memberi jastifikasi kalau tokoh itu tentu tidak memiliki cara marah yang biasa-biasa, yang berbeda dengan yang lain. Saya pernah dibisikkan pelajaran moral dari seorang sosok yang saya kagumi, yang juga sahabat saya. Kebugaran fisiknya karena kemampuannya mengelola bila ditimpa rasa kecewa.

Itulah cara saya belajar dan sekaligus cara sederhana untuk menguliti ketokohan atau kebesaran seseorang. Itulah cara saya untuk membenarkan asumsi umum, bahwa tidak mungkin seseorang itu sampai pada titik pencapaian kalau tidak memiliki kemampuan khas, yang dalam filosopi lokal suku saya, disebut: ‘mampu memutus urat nadi’. Makna yang saya pahami bahwa: orang besar, seorang tokoh, atau seorang berkaliber adalah mampu mengalirkan darah ke arah berbeda dari jalur-jalur normal nadi yang dimiliki manusia secara umum. Saya selalu berkesimpulan bahwa pada diri orang besar ada kemampuan melakukan yang berbeda, tapi untuk menemukannya dengan cara pengamatan sepintas tentu tidak selalu berhasil. Biasalah, asal jangan begitu mudah salah kaprah!

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...