Dua Polwan Terpapar Paham Radikal, Ditangkap di Yogyakarta

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Dua anggota polisi wanita (Polwan) diamankan Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri. Keduanya ditangkap di Yogyakarta.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol M Iqbal mengatakan pihaknya melakukan upaya preventif strike secara maksimal paska kasus percobaan pembunuhan terhadap Menko Polhukam Wiranto di Pandeglang, Banten. Hasilnya, 36 orang terduga teroris berhasil ditangkap Tim Densus 88 di berbagai wilayah di Indonesia usai insiden penikaman Wiranto. Dua diantara yang diamankan adalah anggota Polwan.

“Ya, seperti yang disampaikan Karopenmas, Densus 88 tak berhenti melakukan upaya penindakan hukum paksa terhadap terduga pelaku dan kelompok teroris pasca ditangkapnya Abu Rara, pelaku penyerangan terhadap Menko Polhukam,” kata Iqbal, Rabu (16/10).

Iqbal menyebut, Densus 88 terus bergerak dalam rangka melakukan penindakan hukum terhadap para terduga teroris ini, guna mengungkap tuntas jaringan kelompok teroris ini hingga ke atas. Dan selain itu, mengungkap apakah aksi amaliyahnya itu benar spontan atau terstruktur.

“Update terbaru pengungkapan terduga teroris sampai hari ini, pasca penangkapan Abu Rara dan istrinya sesuai strategi dan masif totalnya sudah mencapai, sebanyak 36 orang diantaranya dua anggota Polwan. Dua Polwan, diamankan di Yogya,” tutur Iqbal.

Menurut Iqbal, pihaknya tidak main-main dalam melawan terorisme. Dengan adanya kasus ini, Polri langsung berbenah dan melakukan penyelidikan mendalam. “Polri introspeksi ke dalam,” jelas dia.

Untuk dua polwan terduga teroris itu, lanjutnya, polisi tetap akan menerapkan asas praduga tak bersalah.

“Untuk Polwan ini kita akan melakukan pengawasan internal. Sanksinya apa, dapat dipecat. Tetapi bukan aksi terorisnya, karena di negara kita aksi terorisme itu ada di peradilan walaupun dia teroris kita selesaikan di peradilan. Asas praduga tak bersalah tetap kita usung, mereka akan dipecat atas pelanggaran disiplin dan kode etik kepolisian yaitu desersi,” tandasnya.

Dirinci Iqbal, 36 terduga teroris yang diungkap Densus 88 dilakukan di sejumlah wilayah. Antara lain, di Pandeglang (Banten) 1 orang, 2 di Bali, 1 di Manado (Sulawesi Utara), 2 di Jakarta Selatan, 7 di Bandung (Jawa Barat), 1 di Jambi, 5 di Cirebon (Jawa Barat), 6 di Lampung, 1 di Poso (Sulawesi Tengah), 8 di Jawa Tengah dan Yogyakarta, dan 2 di Jawa Timur.

Iqbal menjelaskan para teroris yang diamankan menggunakan media sosial sebagai sarana dalam merekrut, membaiat, belajar melakukan amaliyah, belajar merakit bom, dan berkoordinasi.

“Ya, pengungkapan Densus 88 ini fenomena baru, karena mereka ini menggunakan interaksi media sosial (medsos) secara intensif, di medsos ini mereka aktif diskusi dan bicara tentang idiologi, cara merakit bom, sampai dengan yang ditangkap atau belum sudah berbaiat secara online,” jelas Iqbal.

“Hampir 90 persen terduga teroris ini sudah berbaiat dengan pimpinan ISIS Abu Bakar Al-baghdadi. Dan kita pastikan mereka terafiliasi dengan ISIS,” tegas perwira tinggi Polri berpangkat bintang dua ini.

Adapun para terduga teroris ini, setelah melakukan baiat, mereka tidak bersentuhan secara langsung untuk berinteraksi. Mereka berpencar ke sejumlah wilayah yang ada di tanah air dan berinteraksinya aktif di medsos, berdiskusi cara merakit bom dan diskusi ilmu lainnya.

“Tidak pernah mereka bersentuhan langsung, tapi lebih aktif berinteraksi di media sosial. Kelompok ini rata-rata setelah berbaiat langsung berpencar ke sejumlah wilayah, dan jumlahnya tidak sedikit. Alhamdulillah, dengan cara yang demikian juga Densus berpencar dan bisa hentikan dan temukan barang buktinya,” terang Iqbal.

Dan Iqbal menegaskan, kerja dari tim Densus 88 belum selesai sampai disini, nanti apabila sudah semua danlengkap akan disampaikan semuanya berikut dengan bahan-bahan merakit bomnya. Dan untuk sementara, diketahui Leader kelompoknya adalah Abu Zee.

“Nanti akan kita sampaikan semua, dengan barang bukti bahan-bahan merakit bom yang sangat berbahaya dan ini belum disampaikan ke publik, karena memang pengungkapan Densus pasca Abu Rara ini belum tuntas. Terakhir saya ingin membantah para terduga ini, termasuk dua Polwan tidak benar akan lakukan amaliyah saat pelantikan presiden, tidak ada kaitannya,” pungkasnya.

Terkait dua anggota Polwan yang menjadi terduga teroris, pengamat teroris Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Zaki Mubarak mengatakan hal tersebut membuktikan tak ada institusi yang kebal dari infiltrasi ideologi radikal.

“Baik PNS, tentara, kepolisian, bisa mereka pengaruhi. Ini tentunya sudah alarming atau tahap mengkhawatirkan,” katanya saat dihubungi Fajar Indonesia Network sambil mencontohkan bahwa sebelumnya telah ada desersi tentara dan kepolisian serta Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bergabung dengan ISIS di Suriah.

Menurutnya, aksi teroris meskipun kapasitasnya semakin merosot, namun masih menjadi ancaman yang menakutkan.

“Meski banyak tokohnya pentingnya yang tewas maupun dipenjara tapi ideologinya masih hidup. Simpatisan nya terus tumbuh. Hanya tinggal menunggu waktu dan kesempatan untuk melakukan amaliah,” terangnya.

Untuk itu, dia berharap agar aparat keamanan harus dapat menuntaskan kasus terorisme hingga ke akar-akarnya. Penuntasan dari hulu hingga hilir.

“Jangan hanya penindakan saja sebagai fokus. Tapi juga proses deradikalisasi harus dioptimalkan. Moderatisme dan penguatan ekonomi bagi keluarga teroris juga perlu dilakukan untuk memutus mata rantai jaringan terorisme diantara mereka,” pungkasnya. (fin)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...