Kementan Desain Kawasan Buah dan Tanaman Hias Orientasi Ekspor

Sabtu, 19 Oktober 2019 13:23

FAJAR.CO.ID, BOGOR – Indonesia berpeluang mengisi pasar buah nasional, regional bahkan global. Produksi buah-buahan Indonesia tercatat 21 juta ton, namun nilai ekspor baru mencapai 317 ton atau baru sekitar 1,5 persen. Kualitas, kuantitas dan kontinuitas buah-buahan nasional sebagai prasyarat ekspor terus menjadi perhatian Kementerian Pertanian.

Dengan demikian desain pengembangan buah nasional harus disesuaikan dengan dinamika global yang terus berkembang. Menyikapi hal itu, Direktorat Jenderal Hortikultura menyelenggarakan Focus Grup Discussion (FGD) terkait Grand Design Pengembangan Buah dan Florikultura di Bogor, Rabu (17/10).

“Peluang buah dan tanaman hias dari negara tropis seperti Indonesia terbuka sangat lebar. Potensi tersebut harus diimbangi dengan kesiapan kualitas dan memiliki daya saing. Produknya harus bisa tersedia kapan saja dibutuhkan sesuai spesifikasi yang diminta,” ujar Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Yasid Taufik dalam pemaparannya.

Problem mendasar buah-buahan nasional, kata Yasid, bukan karena tidak ada barangnya, tapi terpencar kecil-kecil di banyak lokasi sehingga biaya operasional dan distribusinya tinggi.

“Tantangan persaingan pasar global dan proteksi dari negara-negara tujuan ekspor semakin ketat. Skema tarif makin tidak populer. Akan lebih banyak pertarungan non tarif measurements (NTMs). Butuh tim negosiator dagang yang handal agar produk hortikultura kita bisa dipasarkan lebih luas lagi. Kebun-kebun buah yang tersertifikasi GAP juga harus ditingkatkan jumlahnya,” imbuhnya.

Bagikan berita ini:
2
7
2
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar