Kepercayaan ke Pemimpin Merosot, Stabilitas Politik Goyah

Para peserta Focus Group Discussion (FGD) dengan tema dari Timur (Sulsel) untuk Indonesia Damai yang digelar oleh FISIP Unhas di Jasmine Hall Lt.2, Hotel Claro, Makassar, Jumat, 18 Oktober 2019 (FOTO: NURHADI/FAJAR)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR -- Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Unhas menginsiasi Focus Group Discussion (FGD). Itu untuk membedah masalah demokrasi dan kebangsaan.

FGD dengan tema Dari Timur (Sulsel) untuk Indonesia Damai berlangsung dua jam ini. Diskusi dibagi lima kelompok. Mereka membahas sub poin berbeda.

Adapun kelompok membahas gerakan mahasiswa dan tuntutan, membangun dari timur, stabilitas politik dan keamanan, moral politik, dan kepemimpinan bangsa yang diharapkan.

Pelbagai masalah yang muncul di Indonesia dinilai karena merosotnya kepercayaan terhadap pemimpin. Selain itu, masalah utamanya karakter kepemimpinan yang lemah dan krisis keteladanan. Itu membuat stabilitas politik bergejolak.

"Masyarakat menilai pemimpin kita, tidak mampu mengayomi. Komitmen terhadap ideologi bangsa juga diragukan," kata Dosen Fisip Unhas, Adi Suryadi Culla saat FGD itu.

Akar masalahnya, lanjut Culla, kompleks. Utamanya pola rekruitmen pemimpin yang lemah. Proses kaderisasi di partai politik dan regenerasi yang tidak terformat dengan baik. Ditambah lagi, mentalitas masyarakat saat pemilu juga kian memprihatinkan.

"Itu problem yang kita alami. Pengawasan terkait peran KPK dan beberapa institusi juga menjadi sumber harus berperan maksimal," ungkapnya.

Perlu adanya instrumen untuk membuat kriteria pemimpin ideal. "Solusinya yah membenahi proses rekruitmen politik, membenahi pendidikan pemilih. Ini yang belum tuntas sampai sekarang," tuturnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Muhammad Nursam


Comment

Loading...