Di Warkop Makassar, Ustad Shamsi Ali Ungkap Alasan Bangun Pesantren Pertama di Amerika Serikat

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Imam Besar Pusat Kebudayaan Islam di New York, Shamsi Ali berkunjung ke Kota Makassar, Sabtu, 19 oktober. 

Ia datang untuk menghadiri beberapa kegiatan. Meski begitu padat, pria kelahiran Kabupaten Bulukumba, Sulsel, itu menyempatkan untuk mencoba menikmati kopi di salah satu warkop yang dinamai Phoenam di bilangan Jalan Boulevard, Makassar. 

Sesampainya di Warkop Phoenam, Ustad Shamsi Ali rupanya sudah ditunggu oleh sejumlah pengunjung warkop yang lebih awal datang, khususnya para pengunjung tetap dinamai Komunitas Meja Bundar (KMB), Phoenam. 

Mereka diantaranya, pengusaha sekaligus politisi Rusdin Abdullah, Ketua DPRD Makassar Rudianto Lallo, Direktur Eksekutif Jenggala Center Dr Syamsuddin Radjab (Olleng), Taufiqqulhidayat Ande Latief (dr onasis).

Sementara, Shamsi Ali datang bersama Muzayyin, anggota DPRD Sulsel yang baru dilantik dari Fraksi PKS. Tak lama setelah itu hadir pula Arum Spink, anggota DPRD Sulsel dari Fraksi Nasdem.

Mengawali dialognya, Shamsi Ali menceritakan siapa dirinya hingga akhirnya menetap di Amerika Serikat. “Sejak 1996 atau sudah sekitar 23 tahun saya berada di Amerika Serikat,“ kata Shamsi Ali mengawali dialognya sore kemarin.

“Saya ini putra dari Kajang, Bulukumba. Setiap saya balik pasti ketemu Ammatoa,” tambahnya lagi.

Shamsi Ali yang juga merupakan alumni pesantren Darul Arqam Gombara itu kemudian melanjutkan dengan menceritakan awal mula ia membangun pesantren di Amerika Serikat yang dinamai Nusantara Madani. 

“Itu dibangun di atas lahan seluas 7,5 hektare di New York,” katanya. Pembangunan pesantren tersebut, kata Shamsi, adalah salah satu langkah untuk menunjukkan kepada masyarakat non-Muslim di AS tentang Islam yang sebenarnya. 

Menurut Shamsi, usai terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, tingkat prasangka dan diskriminasi pada Islam alias Islamofobia semakin tinggi. Alhasil, banyak kesalahpahaman kecil yang menjadi persoalan antarumat.

Ia menyebut perjalanan penyampaian ajaran Islam dan kebenarannya sudah cukup baik di AS. Meski begitu, kerap kali tetap terjadi tantangan tergantung situasi dan kondisi setempat. “Ada beberapa tanggapan bahwa islam itu keras tidak bisa senyum dan lainnya. Kegelisahan itulah kemudian mendorong agar membangun pesantren sehingga islam itu bersifat universal untuk semua manusia,” katanya.

“Kita tidak ingin Islam selalu dikaitkan dengan hal seperti itu,” lanjutnya lagi. 

Di tempat yang sama, pengusaha sekaligus politisi Sulsel, Rusdin Abdullah mengaku sangat terkagum perjuangan yang dilakukan oleh Shamsi Ali. “Kita juga (di Sulsel) begitu bangga bahwa perjuangan yang dilakukan Ustad Shamsi Ali begitu sangat mulia. Tentu Pak Ustad pun tidak begitu mudah hingga bisa mendirikan pesantren di lingkungan minoritas,” tutup mantan Bendahara DPD I Golkar Sulsel itu. (taq)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...