Revitalisasi Masjid Tua Tosora Buat Siapa?

0 Komentar

Oleh: A. Chaeril Syam

Masjid Tua Tosora berada dalam wilayah administratif desa Tosora Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo. Merupakan situs purbakala dengan status bangunan cagar budaya yang dilindungi negara. Oleh karenanya, penanganan serta perlakuannya diatur dalam UU yaitu UU no 11 th 2010 tentang cagar budaya.

Masjid Tua Tosora dibangun pada tahun 1621 pada masa pemerintahan Arung Matoa Wajo ke XV La Pakallongi to Alinrungi. Seiring kekalahan Gowa oleh Belanda dalam perang Makassar menjadikan kerajaan Wajo juga terkena imbas. Tosora sebagai ibu kota kerajaan Wajo luluh lantak akibat serbuan militer koalisi Bone Belanda.

Akibat dari serangan tersebut menjadikan Kota Tosora nyaris rata dengan tanah. Sampai saat ini masih dapat dilihat dampak dari serangan tersebut yaitu sisa bangunan masjid, musallah dan geddong (gudang).

Dari ketiga sisa bangunan tersebut, hanya sisa bangunan masjid yang terawat dengan baik. Pada 2014, Dinas Tata Ruang Provinsi Sulsel bekerja sama dengan Dinas Tata Ruang Pemda Wajo berinisiatif melakukan pembenahan lingkungan dan penambahan fasilitas berupa selasar dan ruang informasi.

Dua bangunan lainnya yaitu musallah dan geddong kondisinya sangat memprihatinkan sampai saat ini.

Penanganan benda cagar budaya atau pun benda atau bangunan yang diduga cagar budaya adalah kewenangan pemerintah pusat melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya sebelum Undang Undang Nomor 5 tahun 1992 berubah.

Perubahan UU tersebut menjadi Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya yang memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah dalam rangka ikut melaksanakan pelestarian dan pengelolaan cagar budaya.

Peran serta masyarakat juga diatur dalam UU tersebut namun tetap berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya serta didampingi oleh tenaga ahli
Saat ini rencana revitalisasi mesjid tua tosora oleh sebuah kelompok masyarakat telah memasuki tahap peletakan batu pertama di situs inti mesjid tua tosora.

Tentunya kegiatan ini menimbulkan sejumlah pertanyaan. Pertama, seberapa urgent Masjid Tua Tosora tersebut untuk direvitalisasi mengingat pembenahan lingkungan dan penambahan fasilitasnya baru dilaksanakan tahun 2014?

Kedua, apakah kegiatan tersebut telah mendapat rekomendasi dari instansi terkait? Ketiga, apakah kegiatan tersebut telah sesuaai dengan yang diamanatkan oleh UU No 11 Th. 2010? Keempat, siapakah pemilik sesungguhnya masjid tua tersebut dan pengelolaannya nanti dilakukan oleh siapa? Dan terakhir, sumber pendanaan pada proyek revitalisasi tersebut dari mana?

Pertanyaan di atas tentu memerlukan jawaban yang bijak, transparan serta akademis oleh pihak pihak terkait. Mengapa, karena sifat cagar budaya adalah terbatas dan tidak dapat tergantikan, bisa dibayangkan jika dalam proses pembangunannya tidak sesuai dengan UU cagar budaya atau tiba-tiba terhenti karena kehabisan anggaran. (#)

Penulis adalah Direktur Wajo Procurement Watch.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...