Tahun Depan, Industri Manufaktur Bakal Diguncang Tekanan Kuat

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Industri manufaktur hingga kuartal III/2019 berakhir menunjukkan angka positif. Namun, ekonom menilai tahun depan sektor manufaktur mendapat tekanan yang cukup kuat.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda memperkirakan resesi yang terjadi tahun depan sangat kuat sehingga akan berdampak jebloknya industri manufaktur domestik.

“Jadi tahun depan kayaknya industri manufaktur kita akan mengalami tekanan hebat. Pemilihan menteri ini sangat penting jadinya,” ujar Huda kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (20/10).

Sementara itu Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto mengklaim industri manufaktur atau industri pengolahan salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini.

Dia menyebutkan, rata-rata kontribusi industri manufaktur menyumbang 20 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

“Kalau kita lihat dari data statistik terakhir, neraca perdagangan nonmigas itu kan positif 4,6 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Kemudian kalau kita lihat dari tingkat investasi, terus bertumbuh. Apalagi kita baru menyelesaikan beberapa regulasi terkait pemberian insentif fiskal, seperti tax holiday, mini tax holiday hingga super deduction tax,” kata Airlangga keterangannya kepada Fajar Indonesia Network (FIN) kemarin (20/10).

Catatan Kemenperin, realisasi investasi sektor industri pengolahan periode 2015 sampai semester I 2019 berhasil mencatatkan total nilai sebesar Rp1.173,5 triliun.

Lanjut dia, realisasi investasi ini dari program penumbuhan dan pengembangan industri smelter sampai 2019, di mana terdapat 46 perusahaan yang telah berinvestasi sebesar 50,4 miliar dolar AS.

Oleh karena itu, pemerintah saat ini bertekad untuk terus menciptakan iklim usaha yang kondusif dengan memberikan kemudahan izin usaha serta pemberian insentif fiskal dan nonfiskal

Dia mengungkapkan, pemberian insentif fiskal tersebut mampu menggenjot daya saing industri di dalam negeri.

“Untuk Juknis (petunjuk teknis) super deduction tax yang vokasi, PMK-nya sudah keluar, tinggal kita tunggu yang terkait inovasi. Kita juga sudah memberikan mini tax holiday untuk industri padat karya. Tentu ke depan, kita berharap industri padat karya menjadi sektor yang terus tumbuh dan berkembang,” ujar Airlangga.

Selain itu, menurut dia, di tengah kondisi perekonomian global saat ini, ada potensi investasi masuk ke Indonesia untuk membangun sektor industri padat karya. Antara lain dari sektor industri tekstil, pakaian, dan alas kaki.(fin)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...