KPK Ungkit Pernah Periksa Bupati Minahasa Selatan

0 Komentar

Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Tetty Paruntu tiba di komplek Istana Negara, Jakarta, Senin (21/10). Foto: Ricardo/JPNN.com

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ogah merespons kedatangan Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Tetty Paruntu ke Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (21/10). Namun, KPK sempat menyinggung pemeriksaan yang pernah dijalani Tetty oleh lembaga antirasuah.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah memaparkan, Tetty pernah diperiksa pihaknya di penyidikan dan persidangan kasus dugaan penerimaan gratifikasi yang menjerat Anggota DPR Bowo Sidik Pangarso. Kala itu, penyidik tengah mendalami sumber gratifikasi yang diterima Bowo terkait revitalisasi pasar di Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.

“Memang pernah diperiksa sebagai saksi di penyidikan dan persidangan. Saat itu kami menelusuri dugaan sumber gratifikasi yang diberikan pada Anggota DPR RI Bowo Sidik terkait revitalisasi pasar di Minahasa Selatan,” ujar Febri ketika dikonfirmasi wartawan, Senin (21/10).

Febri menyatakan, pemeriksaan tersebut dilakukan lantaran pihaknya menemukan sejumlah fakta persidangan yang perlu didalami lebih lanjut. Kendati telah memeriksa Tetty, Febri mengakui KPK belum menetapkan tersangka terkait penerimaan gratifikasi Bowo Sidik.

Dalam dakwaan jaksa, Bowo disebut menerima suap senilai Rp2,6 miliar terkait kerja sama pelayaran. Suap tersebut disebut diterima Bowo dari Direktur PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) Taufik Agustono dan dan Marketing Manager PT HTK Asty Winasty.

Selain suap, Bowo juga didakwa menerima gratifikasi dari sejumlah pihak terkait jabatannya sebagai anggota komisi VI DPR sejumlah total Rp7,7 miliar. Salah satunya, terkait program revitalisasi pasar di Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Dalam persidangan, Bowo Sidik menampik pernah menerima pemberian dari Tetty terkait revitalisasi pasar Minahasa Selatan. Melainkan, ia pernah menerima pemberian dari Dipa Malik berupa sebuah amplop berisi uang Rp300 juta yang diselipkan dalam proposal revitalisasi pasar.

Akan tetapi, Bowo tak membantah bahwa Tetty pernah meminta bantuan kepadanya terkait program di Kemendag.

Tak Bertemu Jokowi

Deputi Protokol Pers dan Media Sekretariat Presiden Bey Triadi Machmudin menegaskan Tetty Paruntu bukan menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi). Bey menambahkan, kedatangan Tetty ke Istana Kepresidenan bukan dalam rangka pencalonan menteri.

Bey menjelaskan, Tetty di Istana hanya menemui Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto. “Di dalam dia bertemu dengan Pak Airlangga. Tidak bertemu dengan presiden,” sanggahnya.

Sementara itu, Ketua MPR Bambang Soesatyo mengaku baru mengetahui bahwa Tetty diundang ke Istana Kepresidenan. Namun, ia menyatakan Partai Golkar mengapresiasi jika ada kadernya yang dipertimbangkan menjadi menteri oleh presiden.

“Jumlah menteri wanita minimal atau sekurang-kurangnya 8 dengan mempertimbangkan wilayah Timur, Barat, Tengah, ya tentu pasti dasarnya kemampuan. Tapi yang pasti tampaknya beliau mempertahankan jumlah menteri dari wanita,” jelas Bamsoet. (fin)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...