Siapkan Generasi Berdaya Saing Global

0 Komentar

Oleh: Yusriadi
MASA depan suatu bangsa ditentukan generasi mudanya. Jika gemblengannya baik, yakin bangsanya akan makin baik pula. Tak hanya cerdas akademik, tetapi juga punya kemampuan untuk membangun usaha. 

Setiap daerah perlu memikirkan itu. Bibit-bibit entrepreneur muda harus disiapkan sejak dini. Kelak mereka yang akan membangun lapangan kerja lewat usaha masing-masing, demi kemajuan ekonomi daerah, termasuk Indonesia.  

Provinsi Sulsel sendiri sangat menyadari hal itu. Makanya, pelbagai program disiapkan untuk menumbuhkan kader-kader usahawan yang mampu berdaya saing global. 


Salah satunya seperti program yang digagas Dinas Koperasi dan UKM Sulsel yakni sekolah wirausaha muda “Young Entrepreneur School Sulawesi Selatan (YESS)”. Tahun 2019 ini sudah angkatan ketiga. 


Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sulsel, Malik Faisal yang juga pembina YESS, menyampaikan, dua angkatan sebelumnya di antara siswanya sudah ada jadi pengusaha. Khusus angkatan kedua, ada salah satu yang menerima bantuan modal usaha dari pusat. 


“Dia bergerak di bidang programing. Artinya dia bisa menciptakan usaha yang tidak menutup kemungkinan bisa menarik tenaga kerja. Minimal teman atau orang-orang di sekelilingnya,” ujar Malik di Makassar, Selasa (22/10/2019). 


Malik menjelaskan, program YESS bertujuan menyiapkan generasi muda Sulsel yang unggul. Khususnya bagi yang memiliki jiwa entrepreneurship dan siap berkompetisi secara global. 


”Persaingan SDM global sangat ketat. YESS hadir menyiapkan generasi unggul yang profesional, berintegritas, dan berjiwa wirausaha,” katanya. 
Program YESS adalah sekolah nonformal yang menyasar siswa SMA atau sederajat. Masa kegiatan berlangsung selama tiga bulan, dengan delapan kali pertemuan setiap bulan, khusus Sabtu dan Minggu. 


Dinas Koperasi dan UKM Sulsel  menyiapkan ruang belajar representatif di UKM Center Sulsel. Ada tim fasilitator dari konsultan PLUT (Pusat Layanan Usaha Terpadu) Koperasi dan UMKM Sulsel, serta tujuh orang coach dan praktisi bisnis. 


Kepala Sekolah YESS, Abd Azis Bennu yang juga Kabid UKM Diskop Sulsel menyebutkan, pembelajaran YESS berupa inovasi pelatihan rutin oleh para mentor. Termasuk trainer dan coach bisnis ditunjang dengan pendampingan secara intensif, terdiri 20 persen teori dan 80 persen praktik. 


“Pada tahun 2018 telah menghasilkan alumni sebanyak 150 peserta didik, yang memiliki mindset, pengetahuan dan keterampilan wirausaha,” ungkapnya. 


Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah sangat mengapresiasi program tersebut. Menurutnya, YESS menjadi wadah yang diharapkan bisa membuat Sulsel lebih maju dan berkembang ke depan. Makin berlari kencang. 


Minset usaha, lanjut Nurdin memang harus ditanamkan pada generasi muda. Mereka tidak boleh bergantung pada cita-cita ingin jadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Sebaliknya, harus punya jiwa entrepreneursip, agar bisa memberi manfaat bagi yang lain. 


“Generasi muda itu jangan cuma berpikir cari kerja, tetapi bagusnya berpikir bagaimana menciptakan lapangan kerja,” ujar Nurdin. 
Sulsel sendiri selama empat tahun terakhir, pertumbuhan ekominya cukup tinggi. Tak jarang mengalahkan angka pertumbuhan ekonomi nasional. Bahkan tahun 2014, pertumbuhan ekonomi Sulsel menyentuh angka delapan persen. 


Investasi juga melejit cukup memuaskan. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulsel mencatat nilai investasi pada triwulan I 2019, bertumbuh positif. Total investasi mencapai Rp2,7 triliun. Memang masih jauh dari target keseluruhan tahun ini yakni Rp13 triliun.


Namun setidaknya, nilai tersebut mengalami kenaikan dibandingkan pada periode yang sama pada 2018 lalu. Tahun lalu, angkanya pada posisi Rp2,1 triliun. Adapun untuk Penanaman Modal Daerah Nasional (PMDN) pada triwulan I 2019 yakni sebesar Rp679 miliar.


Kepala DPMPTSP Sulsel, AM Yamin menyatakan, khusus PMDN nilai tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada periode yang sama tercatat nilai investasi PMDN mencapai Rp1,48 triliun.


Sementara untuk Penanaman Modal Asing (PMA) mengalami kenaikan dengan total investasi sebesar Rp2,02 triliun. Naik di banding 2018 lalu yang hanya mencapai Rp697 miliar.


“Nilai investasi pada triwulan I memperlihatkan trend yang cukup positif. Kami memprediksi akan tumbuh terus hingga akhir tahun,” ujar Yamin. 
Mengenai nilai investasi PMDN yang menurun dibanding tahun sebelumnya, Yamin menyatakan, hal itu tidak bisa diperhitungkan, sebab setiap tahun biasanya mengalami perubahan di mana kenaikan terjadi pada PMDN naik dan penurunan pada PMA.


Meski tak bisa memprediksi faktor penyebab dari tren tersebut. Namun, Yamin tetap optimistis target investasi pada 2019 imi bisa dicapai Rp13 triliun. 


Yamin melanjutkan, untuk kabupaten/kota di Sulsel, Makassar berada di peringkat pertama dengan nilai investasi Rp1,4 triliun. Disusul Kabupaten Luwu Timur Rp705 miliar, Wajo Rp291 miliar, Luwu Utara Rp48 miliar, Tana Toraja Rp35 miliar, dan Jeneponto Rp26 miliar.


“Dari sisi sektoral, nilai investasi tertinggi yaitu di sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi, dengan nilai Rp 978 miliar, kemudian pertambangan Rp 691 miliar,” jelas Yamin.


Kata Yamin, sektor-sektor yang memberikan sumbangsih investasi cukup besar tersebut merupakan bidang padat karya. Usahanya membutuhkan banyak tenaga kerja. 


“Artinya tidak hanya mendatangkan nilai investasi, tetapi juga bisa menyerap tenaga kerja di Sulsel. Jadi efeknya cukup besar,” terangnya. 
Kondisi itu dibenarkan Kadis Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulsel, Agustinus Appang. Menurutnya, kondisi invetasi dan usaha yang cukup kondusif membuat penyerapan tenaga kerja cukup positif. 


Agustinus menyebutkan, setiap tahun, Sulsel menargetkan tenaga kerja yang terserap perusahaan sebanyak 200 ribu orang. “Dan itu selalu tercapai. Hanya saja, kita kadang kerepotan menekan jumlah tenaga kerja karena setiap tahunnya ada ratusan ribu lulusan SMA atau perguruan tinggi yang butuh pekerjaan. Artinya tidak sebanding dengan yang terserap dengan tenaga kerja baru yang hadir,” paparnya. 


Meski demikian, Agustinus selalu yakin, sektor usaha dan investasi di Sulsel akan semakin baik. Apalagi dengan kebijakan pemprov yang mempermudah masuknya investasi. 


“Kita berharap itu terus dimatangkan. Investor itu mau ada kepastian hukum. Lalu layanan yang mudah,” sebutnya. 


Menurus Agustinus, iklim invetasi yang baik akan mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi. Tentu saja, itu juga berimbas pada tenaga kerja yang makin sejahtera.  


“Pemerintah itu kan selalu berpikir untuk masyarakat. Kita mau investor makin banyak, biar ekonomi makin maju dan masyarakat makin sejahtera,” kuncinya. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...