Kebangkitan Perempuan Politik

0 Komentar

Oleh Hasrullah

FAJAR.CO.ID– Pelantikan Ketua DPRD Sulsel periode 2019-2024, terasa berbeda. Panggung politik kali ini muncul sosok Andi Ina Kartika Sari sebagai figur mewakili kaum perempuan. Catatan sejarah, inilah perempuan pertama di di daerah ini yang memimpin lembaga legislatif yang biasa diisi oleh sosok maskulin.

Dalam pidato Ibu Ketua DPRD mengatakan bahwa kepercayaan yang diberikan oleh rakyat (baca; Partai Golkar) tidak hanya menjadikan dirinya sebagai perempuan  yang menjadi pionir untuk memimpin DPRD Sulsel. Bermodalkan kapasitas, semangat dan kepercayaan politik kaum perempuan semakin bertambah. Optimisme dalam orasi politik, Andi Ina, inilah kebangkitan dan kejayaan perempuan di kalangan politik Sulsel.

Pertanyaan yang perlu dianalisis dengan tampilnya perempuan di panggung legislatif adalah apakah sosok perempuan mampu mengisi ruang-ruang kosong yang selama diisi kaum maskulin?

Simak saja, jalan sepak terjang perempuan di panggung politik karena alasan budaya patriarki, di mana perempuan lebih pantas mengurusi persoalan rumah tangga dan wilayah privasi (kasur, sumur, dan dapur). Perspektif gender yang selama ini menjadi acuan untuk menentukan kepemimpinan, termasuk kepemimpinan di lembaga legislatif. Adopsi gender yang sudah menjadi postulat, menjadikan perempuan politik terpinggirkan karena kaum hawa hanya “pelengkap penderita” dan etalase politik untuk meraih suara partai.

Fungsi partai yang selama ini sebagai rekrutmen memilih pemimpin sudah sepantasnya mengambil keputusan bahwa perempuan punya potensi untuk memimpin. Keterwakilan 30 persen tidak hanya mindset yang stagnan, tetapi melihat perempuan politik sebagai agenda utama kepemiminan perempuan, sehingga partai menjadi pencetak kader perempuan handal untuk memimpin di panggung politik.

Maka perlu diberi apresiasi kepada partai Golkar Sulsel yang mempunyai komitmen utuh dengan memberikan kesempatan kepada Andi Ina Kartika Sari untuk direkomendasi sebagai partai “juara” pada Pemilu Legislatif. Berada di kursi legislatif untuk memimpin para anggota dewan menjalankan fungsi sebagai wakil rakyat di provinsi yang kita cintai bersama.

Kita juga perlu apresiasi, terpilihnya ketua DPRD Sulsel yang menyampaiakan di depan sidang pengucapan sumpah pimpinan bahwa ada tiga sosok membentuk karakter untuk melakoni di kalangan politik. Pertama, Andi Tja Tjambolang, merupakan Ibunda Andi Ina adalah legislator DPRD Sulsel tiga periode di zamannya. Ditambah lagi, kakek beliau Tjambolang itu seorang penyambung lidah rakyat. Itu artinya Andi Ina telah mengalir darah politik.

Kedua, sosok Syahrul Yasin Limpo menganggap sebagai guru politik. Beliau menyadari, tempaan dan gemblengan sehingga tumbuh menjadi wanita politikus yang matang untuk memimpin. Nasihat yang cukup kental dan menjadi pedoman berpolitik dari SYL: “tak boleh ada kekecewaan dalam berpolitik. Jangan ada marah dalam berpolitik.” Itulah nasihat politik yang menjadi kerangka pikir dalam berpolitik praktis.

Ketiga, sosok yang cukup memberi kesempatan “emas” sehingga Andi Ina melanggengkan diri duduk jadi orang nomor satu di DPRD Sulsel adalah Nurdin Halid. Di masa kepemimpin Nurdin Halid sebagai Ketua Golkar Sulsel yang memberi kesempatan “emas” untuk diberi kepercayaan dan amanah menjadi ketua DPRD Sulsel lima tahun ke depan.

Akhirnya, kepemimpinan perempuan yang sementara ini dinahkodainya telah menunggu tugas mulai untuk mengangkat muruah dalam menjalankan fungsi sebagal lembaga legislatif. Bravo ketua DPRD Sulsel. Kita tunggu DPRD Sulsel yang kuat dan berwibawa. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...