Tito Karnavian Jenderal Termuda yang Pernah Kapolri, Ini Daftar Kekayaannya

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Tito Karnavian resmi menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Hal ini setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) memintanya untuk membantu dalam pemerintahan pada periode kedua.

Menelisik Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Tito Karnavian dalam elhkpn.kpk.go.id, Tito memiliki total harta kekayaan Rp10.291.675.823. Tito kali terakhir melaporkan harta kekayaannya ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 17 Maret 2016.

Jenderal bintang empat itu diketahui mempunyai harta bergerak dan yang tidak bergerak. Tito memiliki harta tidak bergerak berupa 12 bidang tanah yang tersebar di Palembang, Jakarta Selatan, dan Singapura senilai Rp11.297.741.000.

Pria asal Palembang, Sumatera Selatan, itu tidak mempunyai harta bergerak berupa alat transportasi. Namun, dia memiliki harta bergerak lain senilai Rp160 juta serta giro dan setara kas yang mencapai Rp1.827.719.823.

Kendati demikian, pria 54 tahun tersebut diketahui mempunyai utang senilai Rp2.993.785.000. Rinciannya ialah utang dalam bentuk pinjaman barang sebesar Rp 2.917.785.000 dan utang kartu kredit yang mencapai Rp 76 juta.

Presiden Joko Widodo Resmi menunjuk mantan Kepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian sebagai Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Penunjukan Tito sebagai menteri setelah dia mendatangi Istana Kepresidenan, Jakarta pada Senin (21/10).

“Bapak Muhammad Tito Karnavian sebagai Menteri Dalam Negeri,” kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10).

Jokowi mengatakan, ke depan Tito akan bertanggung jawab terhadap urusan di daerah. Berikutnya, Jokowi juga berpesan agar Tito bisa mengurusi kepastian hukum di daerah terkait investasi.

Karier pria kelahiran Palembang, Sumatera Selatan ini terbilang mulus selama bertugas di Korps Bhayangkara. Sebab, Tito merupakan jenderal bintang empat termuda yang mengisi jabatan Kapolri. Tito melompati empat angkatan di atasnya. Dia dilantik menjadi Kapolri pada 3 Juli 2016, menggantikan Jenderal Badrodin Haiti yang memasuki masa pensiun.

Terpilihnya Tito menjadi sorotan publik Tanah Air karena usianya yang masih sangat muda, yakni 52 tahun. Tito lulusan Akademi Kepolisian (Akpol), Semarang, pada 1987. Ia juga merupakan peraih Adhi Makayasa atau lulusan terbaik.

Pada saat masih perwira menengah, Tito terlibat dalam pengungkapan sejumlah kasus terorisme seperti Bom Bali 2002 hingga penangkapan gembong teroris, Noordin M. Top dan Dr Azhari. Atas prestasinya ini, Tito Karnavian ditunjuk sebagai Kepala Densus 88 Antiteror pada 2009-2010.

Ketika menjadi Kapolda Metro Jaya, dia dipuji oleh Istana karena kecepatannya dalam menangani teror Bom Thamrin, Jakarta Pusat, pada 14 Januari 2016. Tito kemudian dipromosikan pangkatnya menjadi komisaris jenderal saat ia menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2016. Sebab, Tito dinilai berpengalaman dalam penanganan terorisme.

Baru tiga bulan menjabat Kepala BNPT, pada Juli 2016, pria asal Sumatera Selatan tersebut ditunjuk oleh Presiden Jokowi menjadi Kapolri. Tito pun terhitung cukup banyak mengungkap kasus-kasus besar.

Sebagai contohnya, bom di Gedung DPR MPR (2003), bom di Bandara Soekarno-Hatta (2003), bom JW Marriot (2003), pembunuhan Direktur PT Asaba oleh Gunawan Santosa, bom di Cimanggis Depok (2004), bom di Kedubes Australia (2004), Bom Bali II (2005), dan bom di Pasar Tentena, Poso (2005).

Puncaknya, saat bersama Idham Aziz, kini Kabareskrim Polri, berhasil melumpuhkan gembong teroris Azhari Husin alias Dr Azhari di Batu, Jawa Timur, pada 9 November 2005. Saat itu Tito kembali mendapatkan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) menjadi komisaris besar (kombes) dari Kapolri Jenderal Sutanto. Dia pun juga pernah menjadi Kapolda Papua.

Kini, Tito harus mengabdikan dirinya untuk mengatur pemerintahan dalam negeri membantu tugas Presiden Joko Widodo (Jokowi). Jabatan baru ini merupakan amanah baru yang diemban Tito dalam posisinya sebagai sipil. (jpg/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...