Kasus Buku Merah Setop, KPK hanya Bisa Pasrah

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pasrah terkait pemberhentian penyidikan kasus Buku Merah. Hal itu lantaran penyidikan kasus tersebut sudah ditangani pihak kepolisian.

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan, pihaknya sempat dilibatkan oleh penyidik kepolisian saat gelar perkara kasus buku merah. Hanya saja, ia tidak memiliki wewenang apapun alias hanya bisa jadi pendengar semata.

“Tadi saya cek ke direktorat pemeriksaan internal, memang ada tim KPK pada saat itu yang diundang untuk hadir pada proses gelar perkara yang dilakukan oleh Polri. Namun, karena kewenangan untuk melanjutkan atau menghentikan perkara itu berada pada penyidik yang ada di Polri, maka tim (KPK) yang berasal hadir cenderung sebagai pendengar,” kata Febri.

Febri mengaku tidak bisa berbuat banyak terkait tindak lanjut atas kasus buku merah tersebut. “Karena kami tidak punya kapasitas untuk memutuskan pada saat itu. Karena domain pokok perkara tentu berada pada penyidik (Polri),” ucap Febri.

Sebelumnya, Polri menyatakan kasus buku merah telah selesai. Hal itu sesuai dengan keputusan pada proses gelar perkara di Kepolisian Daerah Metro Jaya yang dilaksanakan pada 31 Oktober 2018 lalu.

“Bahwa faktanya tidak ditemukan adanya perusakan catatan tersebut,” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Irjen Pol Mohammad Iqbal, dalam keterangannya, Kamis (24/10) kemarin.

Sekadar informasi, kasus buuku merah ini merujuk buku tabungan transaksi keuangan CV Sumber Laut Perkasa milik Basuki Hariman yang menjadi salah satu bukti kasus suap ke hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar.

Dalam kasus ini, mantan penyidik KPK diduga merobek 15 lembar catatan transaksi dan membubuhkan Tipp-Ex guna menghapus sejumlah nama penerima uang dari perusahaan Basuki. Akibatnya, dua penyidik KPK yakni AKBP Roland Ronaldy dan Komisaris Harun dipulangkan ke Polri.

Bahkan, kasus ini pun disebut-sebut masih ada keterkaitan dengan penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Hal itu diungkapkan oleh kuasa hukum Novel, Alghifari Aqsa.

“Seminggu sebelum Novel diserang. Laptopnya hilang dicuri dan file dalam laptopnya itu ada berkas soal kasus buku merah. Makanya tetap ada keterkaitan menurut saya. Selain hilangnya laptop yang isinya berkas-berkas buku merah, kemudian robekan buku merah. Kenapa ini kemudian dihilangkan dari dugaan-dugaan itu?” jelas Alghifari. (jpg/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...