Bayang-Bayang Sensasi dan Kebahagiaan Semu

0 Komentar

FAJAR.CO.ID – Perkembangan dunia modern saat ini membuat manusia semakin instan dan sibuk dalam berbagai hal, sehingga seringkali rasa kejenuhan muncul dalam dirinya dan merindukan sebuah sensasi.

Zaman telah banyak mengalami perubahan, ia bergerak dengan cepat, membuat bumi layaknya terlipat. Berkembang pesat menuju era digitalisasi, orang-orang cendrung menjadi overworked atau terlalu banyak bekerja, overwhelmed atau terlalu kewalahan, dan overeating atau makan berlebih. Generasi ini berisiko terkena penyakit yang mematikan.

Parahnya, banyak manusia saat ini cendrung memikirkan dirinya sendiri ketimbang terlibat dalam wilayah kegiatan sosial budaya, kecendrungan tersebut tidak terjadi dengan sendirinya, ada sebuah kausa yang membentuknya melalui tatanan dunia yang kompleks ini.

Adanya pembagian kelas dalam masyarakat, dalam hal ini adalah “status sosial” yang mampu mengkontruksi pola pikir serta cara hidup manusia yang kadang sampai kita tidak menyadarinya (hegemoni). Dengan kebiasaan dan hegemoni yang berjalan tersebut, terciptalah budaya latah yang memicu hasrat  bersensasi untuk mengejar suatu kebahagiaan yang semu.

Orang mencari sensasi dan kebahagiaan, karena ia takut akan rasa bosan. Bosan membuat hidup terasa hampa dan sepi.Tak heran, orang bersedia melakukan hal-hal berbahaya, guna menghindari rasa bosan.

Keinginan bercumbu dengan sensasi sering muncul dalam diri seseorang, menghibur dan pergi dalam sekejap mata. Ia dicari dan dirindukan, namun sayang justru kerap berakhir dengan kehampaan, kadang pula hal tersebut yang selalu berulang setiap saat, sehingga dunia yang real terlupakan.

Dahaga yang sama yang membuat orang kalap berbelanja. Orang membeli dan menumpuk hal-hal yang ia tak perlukan, dengan uang yang tak ia punya, karena hatinya hampa. Industri kapitalis global mengintai setiap saat serta mampu membaca keinginan masyarakat yang ada. Jasa kartu kreditpun eksis untuk mengisi kebutuhannya.

Bersama dengan itu, berbagai masalah sosial pun tumbuh dan berkembang, penguasa dan kaum kapitalis memanfaatkan hal tersebut dengan membuat rantai penyeragaman dalam tradisi budaya modern dengan memberi kehausan akan sensasi. Sayangnya, ia cenderung tak dikenali, dan diabaikan. Dampaknya pun beragam, mulai dari kenikmatan sesaat sampai dengan tindakan yang merusak.

Sensasi juga dapat menjadikan perbedaan pendapat mengancam kepercayaan diri mereka, sehingga mereka menjadi marah dan kecewa. Jika sudah begitu, mereka dengan mudah menyerang rekan dialognya dengan kata-kata kasar, atau kekerasan fisik. 

Kita sudah hidup. Namun, kita belum hidup dengan kesadaran yang sesungguhnya. Pikiran pun kadang dijajah oleh emosi dan tradisi kaptalis. Kita bahkan tak mampu melihat kemungkinan-kemungkinan di luar tradisi, baik itu tradisi budaya maupun agama yang diwariskan kepada kita.

Dahaga akan sensasi pula yang mendorong terjadinya perang dan krisis di berbagai belahan dunia. Seperti kata Herakleitos, seorang pemikir Yunani, perang membuat manusia waspada dan kuat. Perang juga menjadi warna dari keseharian yang seringkali terasa begitu hampa. Dahaga akan sensasi, sayangnya, bisa menjelma menjadi dahaga untuk saling memusnahkan.

Kerinduan akan hoaks (kebohongan) juga berada di jalur yang sama. Orang tahu, bahwa ia mendengar hoaks. Namun, ia tetap memakannya, bahkan menyebarkannya. Dahaga akan sensasi, dibalut pada kerinduan untuk dibohongi, membuat orang yang cerdas pun memakan hoaks, tanpa rasa ragu.

Oleh karena itu kita tidak perlu ikut ikutan dalam hal sensasi. Sensasi hanya perlu dikenali dan disadari, agar tak ada lagi manusia yg terhegemoni. Dengan begitu, kita tak lagi diperbudak olehnya. (hmk/maginal)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...