Teater dan Sains Bertemu di Makassar, Ini Jadwalnya

0 Komentar

FAJAR.CO.ID — Dalam rangkaian tur nasional (Jakarta, Makassar, Bandung, Yogyakarta, Surabaya), grup teater kontemporer Le Sens des Mots mempersembahkan pertunjukan Binôme untuk pertama kalinya di Indonesia.

Di Makassar, pertunjukan ini akan menjadi semakin istimewa, menjadi bagian dari acara perhelatan akbar akademisi perguruan tinggi dan kalangan ilmiah, hasil kerja sama Prancis-Indonesia, Joint Working Grup 2019. Pertunjukan dijadwalkan digelar di Universitas Hasanuddin, pada 31 Oktober – 1 November 2019.

Melalui Binôme, sains menjadi inspirasi bagi teater!

“Binôme” adalah project orisinal dan inovatif yang dibayangkan pada 2010 oleh Thibault Rossigneux, direktur kelompok teater Prancis «Les Sens des Mots». Ini adalah hasil kolaborasi antara penulis naskah kontemporer dan ilmuwan, mengikuti protokol yang sangat ketat.

Hasilnya sensitif, sering lucu, dan memberi kita pandangan yang tidak biasa terhadap sains dan ilmuwan.

Setelah pertemuan yang jarang dan singkat, 50 menit, dengan seorang ilmuwan, penulisnya memiliki enam minggu untuk menulis naskah pertunjukan selama 30 menit, untuk 3 karakter.

Kemudian naskah karyanya dibaca oleh para aktor, sutradara, disertai dengan kreasi musik. Binôme berkembang sejak 2010 dan sampai sekarang ada 37 pertunjukan yang telah dihasilkan dan dimainkan di Festival d’Avignon.

Dua karya “Binôme” yang telah meraih sukses, yang akan dipersembahkan adalah “Souris Chaos” (Tikus Kekacauan) dan “A condition d’avoir une table dans un jardin” (Asalkan Anda Memiliki Meja di Kebun).

A condition d’avoir une table dans un jardin ditulis dari pertemuan singkat antara penulis naskah Frédéric Sonntag dan spesialis fisiopatologi obesitas, Daniela Cota (Inserm), lahir komedi ‘kejam’ dan lucu tentang makanan sebagai katarsis. Pada set pertunjukan memasak, tiga karakter mengembuskan kehidupan melalui kata-kata penulis yang terinspirasi oleh ilmuwan, mengungkapkan ekses dari masyarakat konsumtif dan kekacauan akan kecanduan kita sendiri. “Bahkan setelah makan, aku masih merasakan kehampaan dan aku merasa harus mengisi kehampaan itu”.

Sementara “A condition d’avoir une table dans un jardin” ditulis oleh Gérard Watkins, setelah pertemuannya dengan Edmond Dounias, ahli etnobiologi (IRD).

Sesosok pygmy muncul di tempat pasangan boho, yang membeli meja makan kayu eksotis sembilan tahun sebelumnya dan rupanya mereka tidak membaca persyaratan umumnya. Dengan kebaikan dan kehalusan, ia memulai analisis sosiologis pasangan ini, yang secara bertahap kehilangan arah.

“Universitas Hasanuddin yang menjadi tuan rumah acara ini didukung oleh Institut Français Indonesia,” kata Abdi Karya, salah seorang seniman asal Makassar. (rls)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...