Kontribusi PT Vale, Pengelolaan Fasilitas Air Bersih di Towuti

Rabu, 30 Oktober 2019 20:17

Fasilitas air bersih.

FAJAR.CO.ID — Sejak awal dekade 2008, PT Vale telah membangun fasilitas air bersih bagi warga di sekitar wilayah operasi, termasuk Kecamatan Towuti.

Hingga saat ini, PT Vale masih terus melakukan pembangunan, perbaikan, perawatan, dan kegiatan operasional air bersih di kecamatan tersebut. Pencarian sumber mata air baru pun sedang diupayakan, yang sedapat mungkin bisa dioperasikan dengan sistem pendistribusian gravitasi sehingga mengurangi penggunaan pompa.

PT Vale tetap berkomitmen menyiapkan dan menyelesaikan jaringan air bersih tersebut sebelum diserahterimakan ke Pemda Luwu Timur atau PDAM luwu Timur.

Pembangunan fasilitas air bersih terbagi dalam dua fase. Eksekusi proyek dilakukan Departemen External Relations dan Engineering PT Vale. Fase Pertama proyek dimulai Agustus 2010 dan beroperasi pada September 2012. Air dialirkan untuk untuk 3 desa; Timampu (546 KK), Pekaloa (452 KK) dan Matompi (215 KK) atau total sebanyak 1.213 kepala keluarga.

Fase Kedua dimulai pada 2013 dan beroperasi 2014. Air untuk menyuplai lima desa; Langkea Raya (876 KK), Baruga (567 KK), Asuli (880 KK), Wawondula (1.080 KK) dan Lioka (508 KK). Keberadaan fasilitas air ini menggantikan fasilitas air bersih sebelumnya yang dibangun Vale pada 1970-an yakni Mata Air Parahua.

Nilai pembangunan fasilitas ini sekitar Rp50 miliar dengan panjang pipa mencapai 30 kilometer. Warga dapat menikmati air bersih secara gratis. Sumber air dialirkan ke warga berasal dari Danau Towuti dengan teknologi pemompaan yang membutuhkan biaya listrik yang cukup besar sehingga hal ini menjadi salah satu penyebab tertundanya pengalihan pengelolaan ke PDAM Luwu Timur, dan saat ini kita sedang berusaha mencari sumber mata air baru yang memungkinkan dengan pengaliran dengan mengggunakan gravitasi bumi, kecuali untuk desa Pekaloa, Desa Matompi dan Timampu yang lokasinya sangat dekat dengan Danau Towuti.

PT Vale dan Pemkab Luwu Timur mengadakan diskusi secara rutin dan intensif untuk membahas distribusi air bersih di Kecamatan Towuti, berikut mekanisme pengelolaannya di masa mendatang. Diskusi terakhir dilakukan pada minggu kedua September 2019. Hasilnya antara lain menyepakati distribusi air bersih ke 8 desa di Towuti, yaitu Desa Timampu, Pekaloa, Matompi, Wawondula, Lioka, Baruga, Asuli, dan Langkea Raya. PT Vale juga telah memperbaiki dua pompa yang rusak dan kini sudah berfungsi secara normal.

Namun, air belum terdistribusi dengan optimal akibat banyaknya pipa distribusi yang bocor/rusak termasuk kerusakan pada tangki utama di Desa Asuli. Saat ini PT Vale tengah mengupayakan perbaikan tangki tersebut namun masih terkendala komponen khusus yang didatangkan dari produsennya di Amerika Serikat. Untuk sementara, distribusi air bersih ke masyarakat dibantu dengan beroperasinya truk-truk air yang didanai oleh PT Vale dan Pemkab Lutim.

Seiring dengan hal tersebut, PT Vale juga meningkatkan volume air di Bendungan Apundi. Pekerjaan tersebut diproyeksikan berjalan selama 1-2 bulan, terhitung sejak pekan terakhir September 2019. Ketika volume bendungan tersebut meningkat, diharapkan kebutuhan air di 2-3 desa dapat terpenuhi.

Pekerjaan lain yang akan dilakukan dalam tahun ini adalah penambahan sumber air baru untuk masyarakat Desa Baruga dan Wawondula. Pemkab Lutim membangun bendungan, sementara PT Vale melalukan pemipaan hingga tersambung ke pipa yang telah tersedia. Tim gabungan PT Vale dan Pemkab Lutim telah melakukan kunjungan untuk mengukur debit air, menentukan lokasi pembangunan bendungan baru, mengukur jarak, dan pekerjaan assessment lain. Diharapkan proses pengerjaan tersebut dalam berjalan secara simultan oleh Pemda dan PT Vale.

Pengelolaan oleh PDAM

Dalam waktu dekat, PT Vale berharap bisa segera melakukan serah-terima pengelolaan air kepada Pemerintah Luwu Timur (dalam hal ini PDAM). Karena air bersih, yang merupakan kebutuhan utama orang banyak, memerlukan pengelolaan secara profesional oleh instansi yang kompeten serta berwenang. Tingginya biaya operasional (sekitar Rp300 juta per bulan atau sekitar Rp4 miliar per tahun untuk biaya perawatan dan penggantian alat, listrik, dan honor operator) dan teknologi yang tidak feasible bagi entitas bisnis menjadi alasan gagalnya fasilitas ini diserahterimakan kepada PDAM untuk dikelola. Seluruh biaya operasional masih sepenuhnya ditanggung oleh PT Vale.

Mempersiapkan pengelolaan yang lebih oleh PDAM, Pemkab Lutim telah memasang 400 pipa tersier hingga ke rumah-rumah warga, serta memasang meteran. Kegiatan tersebut diharapkan kembali dilakukan hingga seluruh rumah tersambung dengan pipa dan meteran air. Ketika hal itu terealisasi, pengelolaan air bersih di Kecamatan Towuti dapat dijalankan oleh PDAM yang harapannya masyarakat mendapatkan layanan air bersih dari instansi profesional dan Pemkab Lutim juga memiliki sumber baru bagi Pendapatan Asli Daerah. (rls)

Bagikan berita ini:
6
9
4
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar