Penguatan Pendidikan Karakter, Penangkal Gempuran Artificial Intelligence

0 Komentar

Muhammad Yassir/IST

Oleh: Muhammad Yassir (Widyaiswara Pemprov Sulawesi Selatan)

FAJAR.CO.ID—Amanat konstitusional yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 cukup memberi garis tegas tentang tujuan, arah dan cita-cita kehidupan bangsa dan negara, yakni melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia. Salah satu poin penting dalam tujuan, arah dan cita-cita tersebut terkait dengan peran pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Hal itulah yang diimplementasikan dalam UU RI No 2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, yang menyebutkan tujuan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Nation Character Building

Nilai utama yang terkandung dalam tujuan tersebut adalah pembangunan watak dan karakter kebangsaaan (nation character building). Pendidikan harus membantu orang untuk menjadi manusia yang berwatak. Mohammad Hatta membedakan pendidikan dan pengajaran. Pendidikan membentuk karakater, pengajaran memberikan pengetahuan yang dapat digunakan dengan baik oleh anak-anak yang mempunyai karakter. Maka bagi Hatta yang utama bukanlah sekolah menengah umum atau sekolah kejuruan, melainkan pendidikan watak yang bisa membuat manusia hidup dalam pergaulan sesama untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan.

Watak dan karakter kebangsaan terwujud dengan memaknai pendidikan sebagai usaha bersama dan menempatkan relasi antara peserta didik dengan pendidikan serta sistem yang memicu dan memacu kreatifitas. Kreatifitas itu sendiri akan muncul dengan dukungan sistem pendidikan yang membebaskan. Khususnya dengan mendahulukan kreatifitas dan kecenderungan peserta didikan atas pilihan-pilihan materi tanpa harus semata bergantung pada kurikulum yang justru sangat mungkin berubah-ubah sesuai kecenderungan kebijakan politik kekuasaan.

Lebih dari setengah abad, sistem pendidikan terbelenggu oleh kepentingan kekuasaan, menyebabkan pemikiran menjadi sangat sempit. Pendidikan yang seharusnya membebaskan telah dipakai sebagai alat melanggengkan kekuasaan, sehingga hanya membawa sebuah kesenjangan sosial yang semakin lebar antara mereka yang mampu dan mereka yang tidak mampu.

Bagi yang mampu membiayai pendidikannya tentu akan memilih pendidikan yang baik, sehingga nantinya dia juga akan mendapatkan penghasilan yang tinggi karena pendidikannya tersebut. Pendidikan dianggap sebagai sebuah batu loncatan bagi narasi ekonomi yang sudah ada di benak orang tua maupun peserta didik.

Pendidikan yang setinggi-tingginya diperoleh hanya untuk mendapatkan gelar bagi pencapaian taraf ekonomi yang lebih baik. Sangat sedikit nilai-nilai yang justru menjadi tujuan pendidikan itu sendiri, sehingga sangat jarang kita melihat perubahan sosial dihasilkan dari proses pendidikan.

Oleh karena itu, sudah saatnya sistem pendidikan nasional kita merujuk pada tujuan dan cita-cita idealnya sebagai pembentuk watak dan karakter yang pada gilirannya mencirikan peradaban dan martabat bangsa. Pendidikan adalah sarana untuk mencapai tujuan universal kehidupan sebagai manusia yang utuh, tidak parsial. Manusia yang mampu memandang dirinya sebagai subjek sejarah yang mampu menganalisa kehidupan diri dan lingkungannya, atas dasar kemerdekaan, kebebasan dan kedaulatannya.

Namun, bagaimana menilai karakter dalam sebuah institusi pendidikan? Seperti diketahui, kemunculan tren terbaru teknologi canggih revolusi industri 4.0 ini ditandai dengan revolusi digital melalui artificial intelligence (AI), e-commerce, big data, dan fintech. Namun, salah satu komponen terbesar teknologi ini adalah mesin canggih.

Teknologhi AI terus dikembangkan melaui sistem cerdas, seperti soft computing, sebuah sistem yang memilah keahlian seperti manusia pada domain tertentu namun beradaptasi dan belajar agar dapat bekerja lebih baik jika terjadi perubahan lingkungan.

Artificial Intelligence dalam Bidang Pendidikan

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini tengah dikembangkan besar-besaran sehingga teknologi ini akan meniru bahkan mengambil alih pekerjaan yang biasa dilakukan oleh manusia, termasuk dalam bidang pendidikan. AI kini mampu mengidentifikasi tingkat pemahaman siswa, sejauh mana materi atau konsep pembelajaran yang tidak dipahami oleh siswa. AI mampu melakukan penyesuaian untuk menemukan cara baru dalam membantu pembelajaran siswa.

Blackboard, salah satu alat di bidang pendidikan. Sebuah platform online ini digunakan para profesor untuk merilis catatan, pekerjaan rumah, kuis, dan tes, dan memungkinkan siswa mengajukan pertanyaan dan tugas untuk penilaian. Alat ini juga bisa mengidentifikasi alasan di balik ketidak pahaman siswa.

Manfaat lain dari program AI yaitu menilai kedua pilihan ganda dan pertanyaan dengan jawaban singkat. Ke depannya, AI juga bisa menilai pertanyaan esai. Oleh sebab itu, para guru tidak perlu lagi menghabiskan waktu mengerjakan tugas menilai setiap jam karena guru dapat lebih berkonsentrasi pada pengajaran dan interaksi satu lawan satu saja. Siswa juga mendapat hasil nilai langsung melalui AI. Mereka tak perlu menunggu waktu yang lama untuk mendapatkan nilai mereka. Siswa juga akan menuai keuntungan dari guru yang memiliki waktu tambahan untuk proses belajar dan mengajar.

Artificial Intelligence dalam Kritik Sosial

Urgensi pendidikan karakter sebagaimana dinyatakan oleh Kemendikbud adalah untuk membangun sumber daya manusia sebagai pondasi pembangunan bangsa, agar generasi emas 2045 harus dibekali keterampilan abad 21 serta menghadapi kondisi degradasi moral, etika dan budi pekerti. Implementasinya adalah dengan melakukan gerakan harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi) dan olah raga (kinestetik).

Hal tersebut di atas belum mampu diatasi oleh AI saat ini. Pernyataan ini juga dipertegas oleh Guru Besar UGM, Mukhtasar, yang menyatakan AI bagian dari penanda revolusi digital dan penanda tersebut secara ektensif membingkai pola pikir dan perilaku manusia pada era revolusi industri 4.0. Namun demikian, kecerdasan buatan juga membawa persoalan filosofis yang perlu dikaji dan diselesaikan, sebab kecerdasan buatan berusaha memodelkan proses berpikir manusia dan mendesain mesin agar dapat menirukan perilaku manusia.

Jika AI secara fundamental dikonsepsikan sebagai kemampuan berpikir cerdas maka timbul pertanyaan apakah mesin dapat berpikir cerdas seperti kecerdasan yang dimiliki manusia? Mukhtasar menegaskan kecerdasan buatan tidak akan pernah bisa menyamai kemampuan manusia dalam memahami konteks, situasi atau tujuan secara teratur karena kecerdasan dan keahlian manusia bergantung terutama pada insting tidak sadar. “Pikiran manusia dan proses pemikirannya merupakan fenomena non reduksionis. Sementara komputer di sisi lain beroperasi menggunakan program reduksi manipulasi simbolik,” katanya.

Oleh karena itu, pendidikan karakter tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan AI tetapi sebagai alat bantu saja. Dibutuhkan sentuhan langsung dari sang pendidik dan contoh empiris guru yang dapat dilihat langsung oleh siswa sehingga menggugah alam sadarnya untuk mampu menghadapi dunianya. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...