Smelter Bantaeng Perlu Didongkrak, Pacu Industri Nikel Indonesia

Pekerja memperlihatkan nikel yang telah diolah dan akan diekspor ke luar negeri di pabrik milik PT Vale Indonesia Tbk di perbukitan Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (26/7/2018). PT Vale menjadi produsen nikel terbesar di Indonesia dan menyumbang 5% pasokan nikel dunia. FOTO: IDHAM AMA/FAJAR

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR-- Pembangunan smelter di Sulsel perlu dipacu. Termasuk mendongkrak smelter di Bantaeng. Penghentian ekspor nikel mentah pemicunya.

Pemerintah pusat dalam hal ini Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bersama pemilik smelter dan penambang sepakat mempercepat pelarangan ekspor bijih nikel berkadar rendah, Selasa, 29 Oktober. Sebelumnya, pelarangan itu sedianya akan diberlakukan per 1 Januari 2020.

Di mana, dalam Permen ESDM 11/ 2019 tentang perubahan kedua atas Permen ESDM 25/ 2018 tentang pengusahaan pertambangan mineral dan batubara, pelarangan ekspor bijih nikel, Januari 2020 dari sebelumnya Januari 2022.

Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah menyambut positif langkaah BKPM tersebut. Pelarangan itu menurutnya, merupakan peluang investasi. Investasi untuk membangun smelter di Sulsel. Apalagi, ketersediaan lahan hingga daya listrik di Sulsel sangat potensial.

Kuncinya, kata dia, memang ada pada daya listrik. "Kita di sulsel masih surplus 350 MW. Insayaallah tahun depan akan ada tambahan daya lagi. Diperkirakan mencapai 1000 MW,” bebernya saat dihubungi tadi malam.

Sekadar diketahui, pelarangan ekspor nikel mentah ini memiliki dampak positif dan negatif. Positifnya, pemerintah akan melakukan penyerapan di dalam negeri dengan harga internasional. Seluruh nikel pun akan ditampung di seluruh industri smelter nikel.

Berdasarkan data, di Indonesia hanya ada 17 smelter nikel, dan empat smelter besi. Penerapan aturan baru ini setidaknya akan menjadi potensi untuk berinvestasi. Hal inilah yang akan menjadi nilai jual Sulsel, ke investor.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : rasid alfarizi


Comment

Loading...