Biaya Urus SIM di Lutim, Dinilai Terlalu Mahal

0 Komentar

Ilustrasi

FAJAR.CO.ID, MALILI — Biaya pembayaran tes psikologi pengambilan Surat Izin Mengemudi (SIM) yang dilaksanakan oleh Lembaga Konsultan Psikologi Dinamis Perkara (LKPDP) Kabupaten Luwu Timur dikeluhkan oleh pemohon Surat Isin Mengemudi (SIM) karena terlalu mahal.

Pasalnya setiap pemohon dikenakan biaya sebesar Rp50 ribu perorang dalam satu kali tes. Biaya tersebut terkesan wajib, sebab lulus psikologi atau tidak sama saja dibayar Rp50 ribu.

“Sesungguhnya biaya Rp50 ribu itu terlalu besar bagi kami. Kemudian pihak LKPDP seharus merincikan dengan jelas terkait pengenaan biaya tersebut,” ungkap Ali, saat usai membayar biaya tes psikologi, Kamis 31 Oktober 2019 kemarin.

Menanggapi hal tersebut, pihak tester yang bekerja dibawah naungan LKPDP Luwu Timur, Widya Santhi mengatakan bahwa dirinya tidak tahu menahu tentang besaran biaya Rp 50 ribu yang dikenakan setiap tes tersebut.

“Setahu saya lembaga ini bekerja sama dengan Polda. Dimana kami hanya pekerja, kami tidak tahu masalah bayaran, semua lembaga yang tahu, dan kami hanya mengikuti arahan dari atas lembaga, selain itu kami tahunya mengtransfer dana,” terang Widya.

Widya mengatakan juga, tes psikologi untuk pengambilan SIM ini baru mulai dilakukan pada tahun 2018 lalu. Dimana setiap pemohon harus menjawab dengan mencontreng isian yang telah disediakan oleh tester.

Pemohon dianggap lulus tes psikologi jika menjawab dengan benar 15 poin. Namun sebaliknya, jika pemohon menjawab dengan benar dibawah 15 pion, maka pada hari itu juga pemohon diminta untuk memgulagi tes. Dan apabila dihari itu juga pemohon belum juga lulus, maka diharuskan mengulangi tes satu minggu kemudian. Tapi sejauh ini, belum ada pemohon yang mengulang tes satu kemudian.

Dihari biasa, masih kata Widya, pemohon SIM yang melakukan tes psikologi itu sekitar 20an orang saja. Tapi lain halnya jika ada operasi yang dilakukan Satuan Lalulintas, seperti operasi zebra saat ini, itu jumlah meningkat mulai 30 hingga 50 orang.

Widya menambahkan, tes psikologi atau tes kesehatan rohani untuk pemohon SIM dilaksanakan berdasarkan UU Nomor 22 tahun 2009 tentang lalulintas angkutan jalan, UU RI Nomor 2 tahun 2002 tentang kepolisian negara RI, Perkap Kapolri Nomor 9 tahun 2012 tentang SIM, ST Kapolri No.ST/1963/X/2013 tanggal 4 Oktober 2013. Perlunya tes kesehatan rohani untuk pemohon SIM, meliputi; kemampuan konsentrasi, kecermatan, dan pengendalian diri, kemampuan penyesuaian diri, stabilitas emosi dan ketahanan kerja. (akm/him)

Artikel Asli >
Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...