Cadar dan Celana Cingkrang Dicap Radikal, Begini Respons PBNU

Senin, 4 November 2019 21:13

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Upaya kementerian agama untuk menangkal paham radikalisme di instansi pemerintahan menuai kontroversi.

Pasalnya, salah satu yang diwacanakan adalah pelarangan cadar dan celana cingkrang. Alhasil, cadar dan celana cingkrang dianggap sebagai simbol radikal.

Wacana Kemenag ini menuai respons keras dari berbagai kalangan. Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatuhl Ulama (PBNU), Ahmad Helmy Faishal Zaini ikut angkat suara. Helmy mengaku tidak setuju apabila seseorang wanita yang bercadar maupun pria yang bercelana cingkrang itu dianggap radikal.

“Di keluarga saya tidak ada yang bercadar, tetapi saya tidak setuju jika mereka yang bercadar atau celana cingkrang disebut radikal,” kata Helmy lewat Twitternya yang dikutip pada Senin, 4 November 2019.

Menurut dia, radikalisme itu bukan soal pakaian. Namun pikirian. “Radikalisme itu dalam pikiran bukan dalam pakaian. Radikal dan ready call jelas beda,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo juga ikut angkat suara soal pernyataan Menag Fachrul Razi. Menurut Jokowi, pakaian adalah hak pribadi masing-masing.

“Kalau saya ya yang namanya cara, cara berpakaian, cara berpakaian itu kan sebetulnya pilihan pribadi-pribadi, pilihan personal atau kebebasan pribadi setiap orang,” ujarnya di Istana.

Sebelumnya, Menag Fachrul juga menyoroti niqab atau cadar. Menurutnya cadar tidak adan kaitannya dengan kualitas iman seseorang. Namun kata Fachrul, cadar adalah budaya Arab.

SPONSORSHIP

Komentar


VIDEO TERKINI