Kematian Mahasiswa Kendari, KontraS dan Amnesty Kecewa 6 Polisi hanya Disanksi Ringan

Senin, 4 November 2019 14:09

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Amnesty International Indonesia dan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) merasa prihatin atas sanksi administratif ringan, terhadap enam oknum polisi yang diduga terlibat tewasnya dua mahasiswa Kendari pada September 2019 lalu. Hukuman ini dijatuhkan setelah sidang disiplin internal pada 28 Oktober 2019.

“Enam oknum polisi yang terlibat dalam kematian dua mahasiswa pengunjuk rasa pada September 2019 lalu, hanya diberikan hukuman administratif yang sangat ringan setelah melalui persidangan disiplin internal kepolisian,” kata Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid, dalam keterangan yang diterima JawaPos.com (grup fajar.co.id), Senin (4/10).

Usman menuturkan, keenam oknum aparat kepolisian itu hanya menerima peringatan tertulis, yakni kenaikan pangkat dan gaji mereka ditangguhkan selama satu tahun, serta diberi sanksi 21 hari penempatan di tempat khusus. Menurutnya, sanksi tersebut sangatlah ringan karena menewaskan dua mahasiswa.

“Sanksi yang dijatuhkan oleh Propam Polda Sulawesi Tenggara sebagai kegagalan total oleh pihak berwenang, untuk memastikan pertanggungjawaban atas pelanggaran serius hak asasi manusia,” terang Usman.

Hukuman yang dijatuhkan melalui sidang disiplin internal pada 28 Oktober menyatakan bahwa enam oknum polisi itu telah melanggar Kode Etik Kepolisian akibat perilakunya dalam menangani aksi protes mahasiswa terkait UU KPK hasil revisi. Terbunuhnya dua orang pengunjuk rasa menunjukkan bahwa diperlukan upaya yang jauh lebih serius untuk menegakkan akuntabilitas.

Bagikan berita ini:
5
8
8
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar