Kisah Inspirasi, Polisi Sisihkan Gaji Bangun Masjid

0 Komentar

KAWAL PEMBANGUNAN. Ipda Muh Nur Usman memantau pembangunan Masjid Haji Usman di Jl Ir Sutami, Makassar, pekan lalu. (NURHADI/FAJAR)

Tak perlu mapan untuk bermanfaat. Hanya butuh komitmen dan ketulusan niat.

LAPORAN: EDWARD AS

fajar.co.id, MAKASSAR — Mata Muh Nur Usman menatap tajam ke atap masjid yang belum terpasang. Hatinya terus mengarahkannya untuk peduli.

Perwira Pertama (Pama) dengan pangkat Inspektur Polisi Dua (Ipda) itu mengingat pesan ayahnya yang telah almarhum. Pesan agar Nur Usman membangun tempat ibadah.

Pesan untuk membangun masjid tersebut dua kali disampaikan. Pertama saat dirinya masih tugas di luar daerah. Kedua ketika ayahnya melaksanakan ibadah umrah. Sebelum mengembuskan napas terakhir di Madina, ayahnya kembali menitipkan pesan itu via ibunya.

Baginya pesan itu bukan lagi sebuah pesan biasa, tetapi sebuah tanggung jawab yang harus segera dilaksanakan. Untuk mewujudkannya, Penyidik Diskrimum Polda Sulsel itu berdiskusi dengan istrinya untuk mengambil kredit di bank.

Ini tidak terlepas dari tanggung jawabnya sebagai suami bagi istri dan ayah dari enam anak. Dana yang dibutuhkan untuk pembangunan masjid di Jalan Insinyur Sutami (dekat simpang lima underpass Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar) tidak sedikit. Hampir Rp200 juta.

“Saya hanya bilang, ‘Bismillah’, langsung melakukan pembangunan. Saya takut, hati saya terbalik jika harus menunda-nunda kebaikan,” kata Nur Usman, sambil melihat dinding bata yang masih belum diplester tersebut, Rabu, 30 Oktober.

Pria berkepala plontos ini menuturkan aksinya menyisihkan gaji untuk membangun masjid mendapatkan dukungan penuh dari istri. Bahkan dia tidak mempertanyakan dari mana uang belanja atau kebutuhan sekolah anaknya.
Berapa pun uang yang diberikan diterima dengan senang hati. Bahkan tidak jarang istrinya ikut menyemangatinya untuk tetap mempercepat pembangunan masjid yang dibangun sejak Juni 2019 itu. “Ini tabungan akhirat” kata Nur Usman menirukan perkataan istrinya.

“Saya kadang tertawa sendiri jika memikirkan bagaimana bisa 50 persen gaji (Rp3,9 juta) terpotong untuk bayar cicilan di bank. Tapi dukungan istri, ibu, dan keluarga lain semakin yakin untuk membangun masjid ini,” ungkapnya.

Alumnus SMA Negeri 6 Makassar ini menyampaikan masjid yang dia bangun tersebut sengaja menggunakan nama almarhum ayahnya. Haji Usman. Tujuannya bukan untuk pamer atau sombong. Namun, sebagai pengingat petuah yang selalu disampaikan kepada anaknya.

Salah satunya, “Membangun masjidlah jika kalian memiliki rezeki”. Pesan lainnya, “jaga ibadah, sedekah, dan rajinlah membantu sesama, meski dirimu sedang kesusahan”.

Sebagai anak laki-laki tertua dirinya selalu mendapatkan wejangan untuk memperhatikan saudara. Amanah tersebut merupakan tanggung jawab yang harus diemban, bukan dihindari.

“Prinsip rezeki itu sudah ada yang mengaturnya, sehingga tidak akan tertukar. Menyumbangkan rezeki di dalam kebenaran tidak akan membuatnya berkurang, malah semakin bertambah,” ungkap anak kedua pasangan H Usman dan Hj Nursih ini.

Pria kelahiran Maros, 13 Juli 1979 ini menambahkan sebetulnya dirinya enggan menceritakan upayanya untuk membangun masjid tersebut. Takut ria atau sombong. Sekecil apapun rasa itu terbesit akan menggugurkan pahala.

“Sebetulnya jika bukan teman yang usulkan saya enggan menceritakan pembangunan masjid ini. Tapi mungkin itu sudah jalan, jadi diketahui banyak orang, semoga jadi inspirasi,” tambahnya. (*/abg-zuk)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...