Melihat Pasar Sebagai Dunia dalam Kota, Didominasi Perempuan, Tapi Paling Rentan

0 Komentar

Pengunjung memadati stan kuliner di area pucuk coolinary di area Parkir Mall Pipo Minggu, 3 November. TAWAKKAL/FAJAR

Hari masih gelap. Sebagian besar orang di perkotaan, masih tidur dengan lelapnya. Walau matahari sudah berada di atas kepala.

Laporan: RUDIANSYAH

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Jarum pendek jam dinding, menunjuk angka empat. Jarum panjangnya juga menunjuk angka enam. Marbot masjid menyalakan radio. Waktunya salat subuh.

Setelah salat, pedagang mulai sibuk mengurus barang dagangannya. Salah satunya, Daeng Nur. Perempuan yang sudah lanjut usia itu sehari-harinya berdagang di Pasar Terong, Makassar.

Dari berdagang di pasar, Nur bisa menyekolahkan cucunya. Begitu juga dengan perempuan lansia lain di Pasar Terong. Untuk bertahan hidup, berjualan satu-satunya keahlian yang dimiliki.

Makanya, sampai mati mereka melakukan itu. Tak ada pilihan lain. Apalagi seorang suami tak memiliki pekerjaan tetap, untuk mendapat penghasilan. Berdagang di pasar, hal yang paling mudah dilakukan perempuan.

Tak perlu keahlian khusus. Krisis atau kemiskinan yang melanda kaum perempuan memaksa mereka terjun ke pasar. Bahkan perempuan lah paling banyak berdagang di pasar.

Begitulah gambaran film dokumenter “Dunia Dalam Kota” yang diputar dalam kegiatan diskusi yang digelar Komunitas Perempuan di Makassar di Rumah Art, Jalan Bontonompo, Tamalate, Minggu, 3 November 2019.

“Dari hasil riset teman-teman AcSI, 68 persen pedagang di Pasar Terong itu perempuan. 40 persennya itu lansia. Kenapa bisa seperti demikian,” kata Co Founder Perempuan di Makassar, Siti Fuadilla di sela-sela diskusi film, kemarin.

Ternyata, perempuan menjadi korban marjinalisasi. Sebab, dalam budaya patriarki, perempuan hanya diminta untuk mengerjakan pekerjaan domestik. Misalnya, mencuci, memasak dan sebagainya.

Karena keadaan ekonomi yang sulit, perempuan akhirnya keluar rumah. Pekerjaan yang paling mudah adalah berjualan. Makanya, perempuan paling banyak ditemukan pasar.

“Tapi apa yang kemudian terjadi, mereka justru digusur. Selain itu, mereka tak ada tabungan sama sekali. Meminjam di koperasi cara mereka. Perempuan ini sangat rentan,” ujar Dila sapaanya.

Puluhan anggota dari berbagai komunitas yang hadir, mengerutkan dahi. Mereka sedih, melihat dan mendengarkan pengakuan pedagang yang berpuluh-puluh tahun di ambang kemiskinan.

Namun pada akhirnya, para komunitas yang hadir membuat grup diskusi. Membahas kerentanan perempuan dan cara menawarkan solusi untuk dieksekusi pemerintah.

Untuk lebih memahami dunia ini, silakan ke pasar. Lihat saja kondisi Pasar Terong. Pedagang memilih berjualan di jalan. Bukan tak ingin menempati gedung yang dibangun sejak 1971.

Tetapi, pedagang ternyata kesulitan mendapat pelanggan. Aktivis Pasar Lokal Makassar, Zainal Ziko, bilang hanya tiga sampai enam bulan pasar itu ramai setelah diresmikan oleh Walikota Mayor M Daeng Patompo.

“Pasar itu bukan lagi rumah kedua. Tapi menjadi rumah pertama bagi para pedagang. Tapi penggusuran terus menghantui,” kata Zainal.

Riset AcSI, ada 1.020 pedagang tergabung dalam Solidaritas (Sadar). Paling banyak pedagang perempuan. Sangat rentan dengan penggusuran. Padahal, di sana semua pundi kehidupan ada.

Baik sosialnya, ekonomi, politik, dan budayanya. Tapi tak banyak yang membahasnya. Semuanya malah membahas infastruktur jalan dan lainnya. (*/rif)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...