Mukhtar Yakin Terjadi Salah Kaprah Soal Adiknya Dicap Durhaka, Begini Duduk Persoalannya

0 Komentar

Mukhtar Mukti

FAJAR.CO.ID, PAREPARE — Anak kedua tertua Mukti Rachim, Mukhtar Mukti, angkat bicara terkait sengketa yang kini mendera keluarganya. Khususnya kasus yang kini mendera adik kandungnya, Ibrahim Mukti.

Mukhtar bersikeras, adiknya itu (Ibrahim) tidak-lah bersalah. Tidaklah ada niat untuk menjadi anak durhaka kepada ayahnya seperti yang saat ini berkembang.

Menurut Mukhtar, itu salah kaprah. Sebab, persoalan ini harus dipisahkan. Harus dipilah baik-baik. Ini bukan persoalan anak mau menjatuhkan bapaknya. Mendenda ayahnya.

Karena, sebenarnya yang dituntut oleh Ibrahim di Pengadilan Negeri Parepare hanyalah haknya sebagai pemilik saham di perusahaan SPBU di Soreang, Parepare.

Hanya saja kebetulan di perusahaan SPBU tersebut ayahnya ada di dalam perusahaan itu sendiri.

“Ini sebenarnya, ada kesalahpahaman kenapa adik lelaki saya (Ibrahim) dicap sebagai anak durhaka. Saya ingin menjelaskan duduk persoalannya,” terangnya, Kamis (7/11/2019).

Mukhtar pun menjelaskan, adanya gugatan di Pengadilan Negeri Parepare hanyalah ingin mengingatkan sang ayah bahwa dirinya juga ada di dalam perusahaan SPBU tersebut. Dia juga punya hak atas adanya perusahaan pompa bensin itu.

Apalagi secara hukum dalam akte perusahaan harusnya dimusyawarahkan apalagi mau dijual, mestinya dimintai tanggapan semua pemegang saham. Tetapi, sang ayah mengabaikan permintaan itu karena dinilai itu tidak perlu. Ia tetap ngotot ingin menjualnya ke orang lain.

“Kan bapak mau jual ini SPBU dan Ibrahim bersikeras jangan dijual karena ikon keluarga. Bahkan Ibrahim meminta siap membelinya. Tetapi bapak tetap tak mau. Tepat mau jual ke orang lain,” bebernya.

Proses ingin membeli ini, kata Mukhtar, sialnya tak didukung oleh saudara perempuannya yang lain. Bapaknya, Mukti Rachim hanya didukung agar tetap dijual bukan pada Ibrahim.

“Sebenarnya begini, saya dan Ibrahim merelakan SPBU yang di Sidrap saja jika memang terpaksa harus ada yang dijual. Sayang sekali, karena di sinilah bapak bisa dikenal,” kisahnya. (sua)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...