Sekolah dan Ancaman Dibalik Industri Digital

0 Komentar

FAJAR.CO.ID – Setiap generasi lahir untuk menciptakan sejarah. Mereka datang untuk mengusung suka, duka, dan cinta sebagai wujud warna pada setiap masanya.

Setiap generasi wajib mempelajari sejarah leluhurnya, mempelajari suka duka perjuangan hidup mereka, mempelajari keberhasilan dan kegagalan dalam mengahadapi berbagai tantangan hidup.

Sehingga dari generasi ke generasi berikutnya dapat tercapai perekonomian, peradaban, dan perikemanusiaan yang lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Untuk mempelajari hal tersebut, maka dibentuklah sebuah tempat untuk belajar yang disebut dengan sekolah.

Sekolah adalah tempat untuk mengenyam pendidikan, guna  memahami berbagai persoalan realitas yang ada serta belajar menerapkan budaya humanis dalam bahasa bugisnya Sipakatau (saling memanusiakan).

Hingga sampai saat ini, mereka yang bersekolah tak sedikit yang bercita-cita ingin menjadi presiden, polisi, tentara, dokter, pengusaha bahkan menjadi seorang profesor dan lain-lain. Tak sampai disitu, ada pula banyak yang mengalami putus sekolah karena keinginan sendiri serta hal yang paling menyedihkan yaitu karena permasalah ekonomi keluarga.

Seiring dengan waktu, mereka yang telah bercita-cita banyak yang tak kunjung mendapat hasil sesuai apa yang mereka inginkan, sehingga tak sedikit dari mereka mengalami depresi bahkan hingga berujung pada bunuh diri. Apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi? apakah karena takdir? ataukah karena mereka tidak berusaha?

Sebelum kita justifikasi hal tersebut, baiknya mari kita analisis dampak dari permasalahan yang ada. Sebelumnya saya akan menjelaskan esensi dari sekolah terlebih dahulu agar tulisan ini tidak keluar dari bingkai filosofi sekolah.

Sekolah pada mulanya merupakan waktu luang, di mana ketika itu sekolah adalah kegiatan di waktu luang bagi anak-anak di tengah-tengah kegiatan utama mereka, yaitu bermain dan menghabiskan waktu untuk menikmati masa anak-anak dan remaja. Kegiatan dalam waktu luang itu adalah mempelajari cara berhitung, cara membaca huruf dan mengenal tentang moral (budi pekerti) dan estetika (seni).

Untuk mendampingi dalam kegiatan tersebut, anak-anak didampingi oleh orang ahli dan mengerti tentang psikologi anak, sehingga memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada anak untuk menciptakan sendiri dunianya melalui berbagai pelajaran di atas.

Namun seiring perkembangan zaman, dunia pendidikan pun banyak mengalami perubahan disertai dukungan teknologi canggih. Fenomena seperti itu tidak dapat dihindari, sebab merupakan proses buah pikir manusia (anugerah Tuhan) dari apa yang ia ketahui, dapat terimplementasi secara global.

Terdistorsinya spirit tentang sekolah membuat sekolah banyak kehilangan esensi, tak lagi seperti dulu. Sekolah seakan momok yang menakutkan bagi para siswa/i. Kecerdasan seorang siswa/i kini hanya dinilai berdasarkan angka tertinggi berdasarkan tugas dan ujian dengan hitungan jam saja.

Parahnya lagi, banyak sekolah yang hanya menerima siswa/i yang mampu bersaing atau berkompetisi (mendapat prestasi). Mereka yang tidak mampu akan dianggap tidak layak untuk mengenyam pendidikan pada sekolah tersebut.

Mengacu dari esensi sekolah, bukankah sekolah adalah tempat untuk mendidik bagi mereka yang ingin belajar? namun hal tersebut malah membuat seseorang yang ingin sekolah termarjinalkan sehingga terbetuk kesenjangan kelas-kelas sosial. Hal seperti ini menjadikan banyak siswa mengalami depresi dan tekanan jiwa.

Belum lagi dengan adanya sebuah kebijakan mengenai “full day school” yang dirilis Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017, yaitu belajar secara penuh dengan waktu selama 8 Jam, yang dapat membuat seorang siswa terframing melupakan dunia realitasnya. Waktu luang untuk berinteraksi di lingkungan sosial dan keluarganya terbatasi, sehingga tak sedikit dari mereka menjadi seorang individualis.

Masyarakat didoktrin oleh suatu sistem yang tidak terlihat (invisible hand) secara global, yang di sebut sebagai hegemoni sosial kapitalisme pendidikan. Nalar dan ktitik pun akan di bungkam dengan menerapkan berbagai aturan.

Penyeragaman dan berbagai kompetisi antara satu dengan yang lainnya, di terapkan guna menyambut dunia industri, sehingga nantinya manusia dituntut memasuki zaman modern khususnya menjadi buruh kaum kelas pekerja.Layaknya seperti pabrik, manusia dicetak bagaikan robot yang siap menjalankan roda sistem kapitalis industri.

Anggapan seseorang yang bekerja sebagai freelance, katanya bebas tanpa seorang bos, namun hal tersebut terjewantahkan, sebab anda juga wajib bekerja sesuai aturan yang ada, misalnya anda seorang youtuber, atau dapat penghasilan dari google. Anda tidak serta merta mendapat imbalan begitu saja, kalian juga wajib mengikuti aturan raksasa teknologi itu.

Tidak ada yang lepas dari cengkraman korporasi raksasa dunia, khususnya diwilayah teknologi saat ini, sebab yang mengatur tatanan pasar ekonomi adalah mereka yang berkuasa, baik secara modal maupun kekuatan politik.

Pernakah anda berfikir apa konsekuensi menjadi seorang yang cerdas? Bukan hanya orang bodoh yang mendapat konsekuensi, tapi orang cerdas pun juga. Lho kok bisa ?

Menjadi sangat cerdas, dapat menggerakkan seseorang membuat sesuatu, serta mengimplementasikan. Bila hari ini misalnya, anda menciptakan alat teleportasi, hal pertama yang harus anda lakukan bukanlah membayangkan bagaimana akan menghabiskan kekayaan dari paten penemuan tersebut. Tapi memikirkan bagaimana nyawa anda tetap di kandung badan. Lho kenapa seperti itu?

Masih ingat kasus perang dagang antara Cina dan Amerika yang lalu? lho apa kaitannya dengan sistem pendidikan dan kecerdasan seorang manusia?

Jawaban atas pertanyaan tersebut iyalah karena anda resmi menjadi ancaman terbesar bagi pihak-pihak yang memiliki kekuasaan atas ekonomi, politik, dan pertahanan. Sebab merekalah yang harus menemukan teknologi tersebut. Bukan anda.

Mungkin anda berpikir ketika menciptakan alat teleportasi maka semua akan baik-baik saja dan dunia akan jadi lebih baik. Oh, tak semudah itu. Karena teknologi anda akan merusak tatanan ekonomi bangsa-bangsa yang telah diatur sedemikian rupa oleh mereka yang berkuasa. Karena saat ini dan dimasa depan hanya teknologi yang bisa menjadi generator ekonomi terbesar di planet ini.

Hal seperti itulah yang di alami Negara Cina saat itu. Mereka mensosialisasikan jaringan 5G nya, sehingga apa yang terjadi? Cina dianggap ancaman dan teror yang dapat merusak tatanan ekonomi Amerika. Sehingga tak sedikit produk Cina diblacklist dari negara Amerika waktu itu.

Bila anda berusaha melawan dan bersaing oleh kuatnya arus global, maka bersiaplah saling menjatuhkan atau tetap tunduk menjadi pengikut dari besarnya arus kekuasaan tersebut. Sebab ini bukanlah suatu persaingan seperti berjualan es cendol atau nasi campur.  Ini merupakan perlombaan supremasi dunia selanjutnya.

Teknologi di akhir abad ke-20 terus bergulir bak bola salju ke abad 21. Menciptakan teknologi-teknologi selanjutnya yang akhirnya menjadi mesin ekonomi baru yang mengalahkan minyak dan baja.

Bola salju yang melahirkan para supreme baru. Para entitas yang mengubah konektivitas dan informasi menjadi komoditas dalam skala masif. Lapangan kerja dibuka bagi mereka yang lulus sekolah, pajak yang gemuk disetor, dan layanan berbasis internet pun diekspor ke seluruh dunia.

Merekalah yang menggerakkan mesin pencetak uang AS. Agar Paman Sam tetap punya fulus yang banyak, dan karenanya bisa tetap jadi negara dan bangsa paling digdaya di muka bumi. Sebab tak ada kedigdayaan tanpa uang.

Hal tersebut yang membuat sistem tatanan sosial hingga sistem pendidikan saat ini berubah mengikuti arus teknologi dan di konsumsi setiap harinya. Bahkan hal tersebut  telah menjadi budaya pop, yang menjadikan penyeragaman secara universal di belahan dunia. Bila hal tersebut tidak diikuti bersiapkah menjadi manusia dan negara yang paling tertinggal. Ancaman selalu hadir kapan saja dan dimana saja.

Lalu bagaimana nasib masyarakat yang khususnya kurang mampu dalam menyambut kompetisi framing industri digital saat ini? apakah mereka selamanya akan tenggelaman oleh derasnya arus globalisasi?

Apa yang telah saya uraikan di atas, seharusnya dalam sebuah kompetisi intelektual yang humanis akan selalu mengalahklan yang tertinggal tanpa perlu melakukan cara-cara yang dehumanisme.

Dunia akan sedikit optimis jika setiap orang dengan bakatnya masing masing melakukan bagian terbaiknya di dunia ini sesuai porsinya tanpa saling berebut. Dan orang-orang yang memiliki kekuatan besar berada di posisi yang lebih tinggi, bukan di maksudkan demi sebuah kehormatan, namun untuk membantu yang lebih lemah.

Sebuah ekosistem negara yang tujuannya adalah memberikan kesejahteraan bagi setiap individu yang tinggal didalamnya, bukan membuatnya menderita atas ego semata. Itulah pendidikan yang sesungguhnya.

Sebenarnya apa yang kita cari? Kehormatan dan harga diri kah? posisi nomor satu kah? dengan mengorbankan milyaran orang yang ada di dalamnya. Namun jika salah satunya berhasil “menang” dengan mengorbankan jutaan bahkan milyaran umat manusia demi sebuah kompetisi, apakah lantas masih bisa disebut dengan sebuah kemenangan ?Jawabannya, tidak ada pemenang dalam kondisi seperti itu.

Tabiat manusia memang tak akan pernah bisa berubah, manusia sendiri yang membangun dan manusia sendiri yang akan menghancurkan dunia ini pada akhirnya. bukan kehendak Tuhan dan bukan pula kehendak alam. Dunia ini selalu berputar dan tidak ada kerajaan atau kekuasaan apapun dalam sejarah peradaban umat manusia yang dapat bertahan selamanya. (Hamka/Marginal)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...