Uji Balistik, Selongsong Peluru Identik dengan Senjata Tersangka Brigadir AM

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Polri masih mendalami kasus tewasnya dua mahasiswa Universitas Halu Oleo Kendari, Sulawesi Tenggara saat aksi unjuk rasa menolak revisi Undang-undang KPK beberapa waktu lalu. Setelah dilakukan penyidikan, satu anggota polisi Brigadir AM ditetapkan sebagai tersangka.

Kasubdit V Direktorat Tindak Pidana Umum Badan Reserse Kriminal Umum Polri, Kombes Chuzaini Patoppoi mengatakan, Brigadir AM ditetapkan sebagai tersangka karena kedapatan membawa senjata api jenis HS saat bertugas mengamankan unjuk rasa. Hasil uji balistik selongsong peluru yang ditemukan sangat identik dengan senjata yang dibawa oleh Brigadir AM.

“Jadi dari 6 senjata, satu senjata identik dengan dua proyektil dan dua selongsong. Dari hasil uji balistik menyimpulkan 2 proyektil dan 2 selongsong identik dengan senjata api jenis HS yang diduga dibawa oleh Brigadir AM,” kata Patoppoi di kantor Divisi Humas Polri, Jakarta Selatan, Kamis (7/11).

Patoppoi menuturkan, dalam kasus tersebut pihaknya telah memeriksa 25 saksi. Enam diantaranya adalah anggota Polri yang menjalani sidang etik dan disiplin, yakni GM, MI, MA alias AM, H, dan E. “Sudah kita lakukan pemeriksaan pada 25 saksi, termasuk enam anggota Polri yang ditetapkan melakukan pelanggaran disiplin,” sambungnya.

Setelah ditetapkan tersangka, Brigadir AM akan langsung dilakukan penahanan. Jerat pidana umum dikenakan kepadanya. “Selanjutnya terhadap Brigadir AM yang telah ditetapkan sebagai tersangka, segera dilakukan penahanan dan berkas perkara akan dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum,” tegasnya.

Atas perbuatannya, Brigadir AM dijerat Pasal 351 ayat (3) dan atau Pasal 359 KUHP subsider pasal 360 KUHP.

Seperti diketahui, kerusuhan terjadi pada Kamis (26/9) sekitar pukul 11.00 WITA ketika elemen mahasiswa di Kendari yang berjumlah 2.000 orang menggelar aksi unjuk rasa. Demonstrasi tersebut awalnya berjalan damai. Bahkan, orasi mereka sempat ditanggapi oleh Ketua DPRD.

“Setelah ada tanggapan dari ketua DPRD, tiba-tiba terjadi pelemparan batu ke arah petugas dan anggota dewan,” ujar Kabid Humas Polda Sulawesi Tenggara Harry Golden Hart kepada JawaPos.com, Sabtu (26/9).

Akibatnya, pasukan pengamanan langsung melakukan aksi pembubaran dan mendorong massa menjauh dari gedung DPRD guna mencegah kerusuhan meluas. Sekitar pukul 16.00 WITA, aparat mendapat informasi ada korban dari pihak pendemo sebanyak lima orang.

Rincian lima korban tersebut adalah Randi, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Halu Oleo yang tewas dengan luka tembak, Yusuf Kardawi, 19, kritis dengan luka parah di kepala dan akhirnya dinyatakan meninggal, serta 3 orang yang mengalami luka ringan dan sesak napas.

Kerugian juga timbul dari aspek materil. Gedung DPRD rusak karena lemparan batu, Pos Lantas terbakar, dan sejumlah kendaraan hangus dibakar. (jpg/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...