Abdul Mukti Rachim yang Digugat Anak Kandung Sudah Sakit-sakitan, Ini Kondisinya

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, PAREPARE– Harta kerap menjadi pemersatu. Namun, kadang juga memicu perselisihan. Termasuk hubungan anak dan orang tua.

Orang tua mana tak bahagia melihat anak sukses. Tetapi, apa jadinya jika sudah sukses dan bergelimang harta, anak malah bertindak di luar harapan.

Abdul Mukti Rachim (82), namanya. Ayah malang itu dituntut secara hukum oleh anaknya, Ibrahim Mukti (47). Dua jalur sekaligus: perdata dan pidana. Kini kasus perdatanya yang sementara berproses di pengadilan. Pidananya, berproses di Polda Sulsel.

Ibrahim minta lebih atas harta yang kini masih dimiliki orang tuanya.
Padahal, Mukti hendak menjual harta itu. Semata agar ia bisa tabung untuk akhiratnya kelak, yakni membangun masjid. Sebagai amal jariah yang pahalanya terus mengalir. Kelak, ketika ia sudah meninggal dunia.

Namun, harapan itu tentunya baru sekadar harapan. Sebab, Ibrahim menghalanginya. Hal inilah yang membuat wajah Mukti selalu berkaca-kaca. Mukanya pucat dengan suara serak. Emosinya, juga tampak tak lagi stabil. Karena harapan ukhrawi itu, hendak dihapus sendiri oleh anak kandungnya.

Tetapi, Mukti mengaku berusaha tegar. Meski itu pedih. Ia mengaku harus tetap kuat menjalani dan memperjuangkan harapannya itu. Agar kelak bisa tenang di alam sana.

Baginya sidang perdata yang sudah dijalaninya untuk kelima kalinya yang dilayangkan anak kandungnya, Ibrahim di Pengadilan Negeri Parepare, cukup jadi pelajaran. Ia berharap segera selesai, dan dia menang atas gugatan anaknya itu.

“Pokoknya saya tak lagi mau menganggap dia anak. Saya tak habis pikir. Tega-teganya buat saya seperti ini. Di usia saya yang sudah tak lagi muda ini,” keluhnya dengan suara terdengar serak pascasidang, Rabu, 6 November.

Di atas kursi rodanya, Mukti mengaku tak pernah berharap bakal menjalani kasus seperti ini. Apalagi, dilakukan oleh anak kandungnya sendiri. Anak yang sudah ia besarkan dengan peluh keringat.

Ia banting tulang membesarkannya. Memberinya makan. Membelikan segala kebutuhannya. Tetapi, ujung-ujungnya malah tega membuat dirinya sengsara. Bahkan tega mau memanjarakannya. Menfitnahnya.

Mukti sadar, semestinya dia sudah saatnya bercengkerama dengan cucu-cucunya di rumah. Dari ketujuh anak-anaknya. Menikmati masa tuanya. Juga, menjaga kesehatannya dari penyakit yang kini mulai berdatangan. Mulai dari hipertensi hingga penyakit gula. Apalagi, istrinya juga sudah mulai sakit-sakitan.

“Memang kurang ajar sekali. Ini belum, saya dituduh mau membunuhnya, mau diburu parang. Saya mana tega. Itu fitnah. Saya pun dilapor di polisi. Sungguh saya tak habis pikir. Serakah. Sudah dibutakan harta,” kisahnya, dengan emosi tertahan.

Mukti pun mengaku geram. Bahkan sumpah tak mau lagi mengakui Ibrahim sebagai anaknya. Dia sudah sangat kurang ajar. Sudah sangat tak tahu budi.

Ibrahim, tega membalas air susu dengan air tuba. Sudah di sekolahkan sampai sarjana hingga sukses sampai sekarang. Bisa bergelimang harta.

Bagi sang anak, Ibrahim, langkahnya menggugat ditempuh karena ia merasa punya hak. Dia merasa punya kontribusi terhadap aset yang hendak dijual sang ayah. (sua/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...