Peringatan Sumpah Pemuda sebagai Refleksi Gerakan Mahasiswa

  • Bagikan

Oleh: Rahmat (Sekretaris Jendral Federasi Mahasiswa Unhas)

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh seorang pemuda

~Tan Malaka

Kutipan kalimat di atas, setidaknya, menarik sebagai refleksi untuk pemuda saat ini.  Setelah 9 dekade lebih pemuda Indonesia dengan ikrar/sumpah akan persatuan yang dikenal dengan ‘sumpah pemuda’ baru saja diperingati. Melalui agenda tahunan tersebut, putra dan putri Indonesia saling mengingatkan agar tidak tercerai-berai. Namun, semangat persatuan itu terlalu sedih untuk dikenangkan terlebih bagi pemuda dari kalangan mahasiswa. Setelah persatuan—pada gelombang Perlawanan Mahasiswa dalam tagar reformasi dikorupsi, membuat pemuda terutama mahasiswa masih terlihat belum bersatu, khususnya mahasiswa Unhas.

Menjelang peringatan hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober 2019 lalu, sejumlah mahasiswa masih berupaya ‘menyatukan’ melalui momentum tersebut kembali mengkampanyekan sejumlah tuntutan yang tidak dipenuhi dan yang dalam status penundaan untuk sejumlah RUU yang tidak pro terhadap rakyat. Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil sesuai harapan. Ihwal tersebut tidak terlepas dari motif Unhas untuk lolos evaluasi PTN-BH 2020 mendatang. Mengapa demikian?

Tidak dapat dipungkiri, pecahnya kongsi gerakan mahasiswa Unhas disebabkan oleh persoalan internal Unhas sendiri. Hal ini disebabkan oleh perbedaan cara pandang dalam memilih metode yang digunakan walau tujuan awalnya sama, “menentang liberalisasi pendidikan”. Alhasil menciptakan dua poros gerakan mahasiswa dalam Unhas. Poros pertama, memilih untuk tidak membentuk BEM-U dengan dalih ‘hanya memperlancar suksesi PTN-BH dalam menghadapi evaluasi. Sedangkan poros kedua, lebih memilih untuk membentuk BEM-U dengan dalih wadah pemersatu gerakan. Kendati demikian, keduanya sama-sama menghendaki wadah gerakan pemersatu. Akan tetapi, BEM-U sebagai wadah gerakan pemersatu belum tepat untuk kondisi saat ini—malah dinilai untuk memenuhi assessment (penilaian) evaluasi PTN-BH. Maka dari itu, poros pertama lebih memilih membentuk federasi sebagai wadah gerakan pemersatu, disamping dalih lain yang tidak tersebutkan.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan