Petahana Basli Ali Gandeng Saingan di 2015? Ini Alasannya

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Meski terkesan dini, beberapa figur kuat yang akan bertarung di pilkada 2020 mulai berani mengumbar paket pasangan calon (paslon). Sekalipun, bukan tak mungkin ada kejutan jelang pendaftaran.

KANDIDAT petahana yang paling terdepan mengumbar sosok yang akan digandeng di posisi kosong dua. Mereka adalah calon petahana Selayar, Basli Ali yang secara terbuka menyebut akan menggandeng pesaingnya pada 2015 lalu, Syaiful Arif. Lalu,

Lalu Wakil Bupati Maros, Harmil Mattotorang akan mengajak Wasekjen DPP Partai Amanat Nasional, Suhartina. Selanjutnya, Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani hampir pasti sepaket dengan Suaib Mansyur untuk kembali mempertahankan takhtanya di daerah ini.

Nama terakhir adalah Wakil Bupati Toraja Utara, Yosia Rinto Kadang yang sudah mengisyaratkan akan berduet dengan Frederik Viktor yang juga ketua DPD Golkar Toraja Utara. Bahkan dua kontestan non petahana yakni Askar HL sudah memastikan akan mengajak Kepala BPN Bulukumba, Andi Makmur masuk dalam satu gerbong.

Demikian juga politisi Nasdem, Malkan Amin yang gagal pada pilkada 2015 lalu akan kembali bertarung dengan berpaket dengan Salahuddin Rum pada pilkada Barru. Bahkan, duet Malkan-Salahuddin bersama-sama mendaftar di Partai Golkar dan Gerindra.

Basli Ali juga sudah memaerkan foto bersama Saiful Arif di sejumlah media sosial. “Iya sudah benar seperti itu. insya Allah akan berpaket dengan Ustaz Saiful Arif,” katanya.

Menurut Basli, pemilihan Saiful Arif bukan tanpa alasan. Itu tidak terlepas dari masukan dari tokoh tokoh masyarakat Selayar dan hasil beberapa lembaga survei yang menempatkan ia dan Saiful diurutan tertinggi.

Wabup Maros, Harmil Mattotorang pun menegaskan, Suhartina Bohari adalah sosok paling tepat yang akan mendampinginya. “Yang jelas itu pasangan dari figur perempuan. Siapa lagi kalau bukan itu (Suhartina),” kata Harmil.

Pengamat politik Unhas, Adi Suryadi Culla mengatakan ada sisi positifnya bila petahana menunjuk calon 02 sejak awal. Kata dia, ini untuk menghindari kesan kawin paksa. “Selama ini banyak di pilkada banyak terjadi kawin paksa. Petahana ingin 02 yang punya kecocokan. Ini juga tidak bagus ke depan,” ungkapnya. (taq-fik/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...