Heboh Kaburnya Buronan Interpol Rp 7 T

Wakajati Bali Didik Farkhan Alisyahdi (Istimewa)

FAJAR.CO.ID,BALI-- Kaburnya buronan Interpol pelaku skimming atau pembobol data nasabah senilai Rp 7 triliun, Rabie Ayad Abderahman alias Patistota, 30, benar-benar bikin gempar.

Pasalnya, pria berdarah Lebanon yang menjadi buronan paling dicari Pemerintah Amerika Serikat itu bukan saja kabur menjelang diekstradisi

Namun, yang paling mengejutkan, Ayad yang semestinya dititip di rumah detensi Imigrasi Ngurah Rai ternyata tak dititip di sana (rumah detensi Imigrasi Ngurah Rai). Lalu?

Wakil Kepala Kejati (Wakajati) Bali, Didik Farkhan Alisyahdi menegaskan, sebelum kabur atau melarikan diri, yang jelas dari kejaksaan sudah memohonkan ekstradisi ke lembaga pengadilan.

Awalnya, kata Didik, permohonan ekstradisi ke Pengadilan Negeri (PN) Denpasar ditolak. Kemudian jaksa banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Bali.

Hasilnya banding dikabulkan. “Tetapi termohon ekstradisi menurut keterangan imigrasi kabur,” tandasnya

Menurut Didik, Ayad tertangkap 19 April 2018 di Hotel Lerina, Denpasar oleh Polda Bali setelah ada red notice dari Interpol.

Setelah ditangkap, Ayad menjalani sidang ekstradisi di PN Denpasar.

Pengajuan sidang itu dilakukan atas permohonan ekstradisi pemerintah Amerika Serikat kepada pemerintah Indonesia.

Selanjutnya, pada 23 Oktober 2019, majelis hakim PN Denpasar menolak ekstradisi Ayad yang diajukan jaksa.

Majelis hakim menolak dengan alasan error in persona.

Hakim meyakini Ayad yang dimaksud dan menjadi buronan Interpol bukanlah yang dihadapkan dalam persidangan.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Edy Arsyad


Comment

Loading...