Patrice Rio Capella Tuding Nasdem Jadi Restoran Politik, Ujang Komarudin: Manuver yang Wajar

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pengamat politik Ujang Komarudin menilai Nasdem melupakan jasa Patrice Rio Capella yang pernah menjabat Sekretaris Jenderal Nasdem. Ketika Rio Capella tersangkut kasus suap yang ditangani KPK, Nasdem meninggalnya seorang diri.

“Ketika Rio Capella berkasus di KPK, Nasdem lepas tangan. Bahkan, setelah beres kasusnya, Nasdem tak membutuhkannya,” kata Ujang saat dihubungi jpnn.com (grup fajar.co.id), Minggu (10/11).

Dalam dugaan Ujang, Rio Capella sudah pasang badan bagi Ketua Umum Nasdem Surya Paloh dari kasus suap yang ditangani KPK tersebut. Namun, Rio Capella tidak mendapatkan penghargaan layak dari Nasdem.

“Rio Capella merasa tak dihargai dan merasa dibuang Nasdem,” timpal Ujang.

Berkaca dari kekecewaan karena tidak dihargai Nasdem, Rio Capella pun bermanuver. Rio Capella menyindir Nasdem dengan sebutan restoran politik. Menurut Ujang, tindakan tersebut ialah manuver yang wajar dilakukan Rio Capella ke Nasdem.

“Nasdem sejatinya harus memberikan tempat ke Rio Capella. Karena tidak pernah menyeret-nyeret Nasdem di kasusnya dan tidak pernah membawa-bawa SP juga,” ucap dia.

Sebelumnya Pendiri dan mantan Sekretaris Jenderal Nasdem Patrice Rio Capella merasa resah karena partai besutan Surya Paloh itu sudah melenceng dari semangat pembentukan awal yakni restorasi Indonesia. Rio Capella pun menyindir Nasdem sebagai restoran politik.

“Partai Nasdem yang awalnya mengusung salam perubahan restorasi Indonesia, saat ini sudah benar-benar berubah menjadi restoran politik,” kata Rio ditemui di sebuah restoran kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (10/11).

Menurut Rio, Nasdem kini menjadi tempat masak-memasak dan menggoreng kepentingan politik. Hal itulah yang mendasari Rio menyebut Nasdem sebagai restoran politik.

Rio lantas menyinggung manuver pengurus Nasdem dengan menemui pimpinan partai oposisi bagi pemerintahan Joko Widodo atau Jokowi. Menurut dia, tindakan tersebut melanggar etika berpolitik.

“Manuver itu jelas melanggar norma dan etika berpolitik yang tidak mencerminkan adab ketimuran tentang sopan santun. Manuver itu sangat memalukan karena Partai Nasdem seolah seperti perusahaan milik pribadi yang mengasong kepentingan politik,” terang dia. (jpnn/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...