Bidan Honorer Asal Pangkep Ini Digaji Rp 300 Ribu per Bulan, Plus Jadi Perawat dan Dokter

Senin, 11 November 2019 18:07

Bidan Nike Indira saat di temui di Pulau Sailus Besar, Sulawesi Selatan (30/10/2019). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

FAJAR.CO.ID,PANGKEP-– ”Sedih karena saya tidak bisa berbuat banyak,” ucap bidan honorer Puskesmas Pembantu (Pustu) Pulau Satanger Nike Indria.

Pasien yang dia tolong meninggal karena preeklamsia dan terlambat dibawa ke daerah rujukan. Penyesalan seperti itu dirasakan banyak tenaga medis di wilayah sulit.

DI sebuah sore Februari lalu, saat sedang santai Nike dipanggil seorang warga di Pulau Satanger, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Ada kondisi gawat. Seorang ibu muda hendak melahirkan, tapi pembukaan jalan lahir berjalan lambat. ”Sudah ditangani dukun, tapi tidak keluar (bayinya, Red),” ujar dia.

Pukul 19.00 Nike sampai di rumah ibu tersebut. Baru pembukaan 5. Untuk mempercepat proses, pasien meminta izin jalan-jalan. Dua jam berselang, Nike kembali memeriksa pembukaan. Hanya bertambah 2 cm. Pasien mulai stres, tapi tetap minta untuk jalan-jalan.

Tak lama kemudian ibu itu jatuh. Tubuhnya kejang. Matanya hanya kelihatan bagian putih. Semua panik. Kejang berlangsung sekitar dua menit. Ibu tersebut kembali sadar. Nike mengecek tekanan darah. Meski lupa angka pastinya, dia ingat betul angkanya tinggi. Pasien harus dirujuk untuk mendapat perawatan yang lebih lengkap.

Sayang, laut sedang surut. Kapal yang ada di bibir pantai tak bisa menuju ke tengah. Oke, ditunggu sampai besok pagi. Azan Subuh belum terdengar. Langit masih gelap. Air sudah tinggi. Semalaman Nike menunggu pasiennya yang beberapa kali kejang itu. Mengejar waktu, Nike ditemani keluarga pasien membawa ibu muda tersebut menuju Sumbawa. Estimasi perjalanan delapan jam. ”Kapalnya tidak menggunakan mesin mobil, jadi lama,” kenang perempuan 23 tahun itu.

Komentar