Prabowo Bertemu Mantan Anak Buah Semasa di Kopassus Saat Rapat Kerja Komisi I

0 Komentar

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto saat jadi inspektur upacara di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Kamis (24/10/2019). (Dery Ridwansah/JawaPos.com )

FAJAR.CO.ID,JAKARTA– Rapat kerja Komisi I DPR dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengingatkan Lodewijk Freidrich Paulus, salah satu anggota komisi yang membidangi pertahanan itu, akan pengalamannya di Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pensiunan TNI berpangkat letnan jenderal atau bintang tiga itu mengaku pernah beberapa kali menjadi anak buah Prabowo.

Yakni saat di Satuan 81 Kopassus atau dulunya lebih dikenal sebagai SAT-81/Gultor, Pusat Pendidikan dan Latihan TNI, serta Kopassus.

“Pak Prabowo komandan saya tiga kali. (Saya) masuk Gultor, beliau komandan saya. Saat membina SDM Pusdik, beliau komandan saya. Saat kami membangun kekuatan Kopassus, (Prabowo) komandan saya,” kata mantan Danjen Kopassus TNI AD itu saat rapat kerja Komisi I DPR dengan Prabowo di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (11/11).

Karena itu, Lodewijk yang saat ini juga menjabat sekretaris jenderal (sekjen) Partai Golkar itu mengaku tidak meragukan lagi komitmen Prabowo terhadap pertahanan Indonesia.

“Saya tidak meragukan lagi komitmen beliau membangun pertahanan Republik Indonesia yang kita cintai,” ungkap Lodewijk.

Dia pun mengapresiasi pemaparan yang telah disampaikan Prabowo Subianto maupun anggota Komisi I DPR sebelumnya.

“Biasanya yang paparan saya, sekarang Bapak (Prabowo) yang paparan,” tegas Lodewijk.

Dalam kesempatan itu, Lodewijk pun memaparkan terkait sistem pertahanan negara. “Sistem pertahanan kita bersifat semesta. Pemahaman semesta ini sebenarnya rakyat semesta, perang rakyat semesta sesuai dengan UUD 1945, tetapi ada yang ingin mengubah seakan-akan perang semesta itu perang internasional, padahal itu menjadi kekuatan utama kita,” ungkapnya.

Dia menyatakan bahwa pertahanan disiapkan dini, dilaksanakan secara total dan terpadu, terarah, berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa dari segala macam ancaman.

Dia menjelaskan ada dua pendekatan di dalam membangun postur keamanan. Yakni berdasarkan ancaman, dan berdasar kemampuan.

Lodewijk setuju dengan Prabowo yang menyatakan menggunakan filosofi “Apabila apabila anda mau berdamai bersiaplah untuk perang”.

“Saya teringat saat bapak debat capres lalu saat bicara hakekat ancaman, saya setuju statement bapak bahwa membangun angkatan bersenjata harus berdasar ancaman,” ujarnya.

Lodewijk mengatakan selain bertemu Menhan Prabowo Subianto, Komisi I juga sudah bertemu dengan Panglima TNI, maupun Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS).

“Kami sampaikan tolong paradigma tentang ancaman itu perlu diubah. Kalau sampai 10 tahun, 20 tahun tidak ada serangan, terus apa yang harus kita bangun. Saya yakin pembangunan kita ke depan berdasar ancaman, walaupun aman,” jelasnya. (jpnn)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...