Rawat Rasa Warisan Leluhur Sajian Khas dari Gempuran Fastfood

Industri rumahan kue tali di Jl Masjid Jabal Nur adalah kue tradisional yang masih bertahan sampai sekarang. TAWAKKAL/FAJAR

FAJAR.CO.ID, FAJAR -- Salah satu fakta Zaman Now adalah dimanjakannya kaum milenial dengan berbagai makanan cepat saji (fastfood). Imbasnya, banyak dari mereka merasa asing bin aneh dengan sajian lokal.

Bahkan tidak sedikit generasi saat ini tak lagi mengenal kekhasan budayanya. Termasuk di dalamnya, soal masakan atau penganan yang justru menjadi keunikan daerahnya. Hal yang paling ditakutkan adalah, ketika lidah mereka sudah tak tergoda dengan cita rasa warisan leluhurnya. Khususnya di Sulsel.

Perkembangan memang memaksa kuliner asli masyarakat Sulsel bermetamorfosa. Memang masih mengusung kuliner yang leluhur, namun sentuhan modern membuat aroma dan rasanya berkurang.

Menariknya, di tengah gempuran makanan cepat saji dan terus berkembangnya pergaulan global, masih ada segelintir penerus yang mencoba bertahan dengan keaslian cita rasa yang turun temurun itu. Meskipun, bisa dikatakan hanya dihitung jari saja.

Pengolahan makanan dengan bahan atau alat konvensional pun sebagian masih ada yang bertahan memanfaatkannya. Mempertahankan keaslian rasa menjadi alasan utamanya.

Yulianti Tanyadji salah satu yang terlibat dalam pengelolaan sajian kue tradisional Sulsel dengan bahan konvensional mengungkapkan, beberapa hal tidak dapat dikerjakan menggunakan mesin. Yulianti adalah pegiat makanan dan panganan tradisional seperti Apamparanggi.

Apamparanggi adalah salah satu kue yang masih sangat tradisional. Pengolahannya menggunakan cetakan besi dan penutup (palakko) dari tanah liat. Alatnya, masih banyak didapatkan di pasaran.

Penulis : SULKIPLY- ISMAN-ABADI
Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : rasid alfarizi


Comment

Loading...