Rawat Rasa Warisan Leluhur Sajian Khas dari Gempuran Fastfood

0 Komentar

Industri rumahan kue tali di Jl Masjid Jabal Nur adalah kue tradisional yang masih bertahan sampai sekarang. TAWAKKAL/FAJAR

FAJAR.CO.ID, FAJAR — Salah satu fakta Zaman Now adalah dimanjakannya kaum milenial dengan berbagai makanan cepat saji (fastfood). Imbasnya, banyak dari mereka merasa asing bin aneh dengan sajian lokal.

Bahkan tidak sedikit generasi saat ini tak lagi mengenal kekhasan budayanya. Termasuk di dalamnya, soal masakan atau penganan yang justru menjadi keunikan daerahnya. Hal yang paling ditakutkan adalah, ketika lidah mereka sudah tak tergoda dengan cita rasa warisan leluhurnya. Khususnya di Sulsel.

Perkembangan memang memaksa kuliner asli masyarakat Sulsel bermetamorfosa. Memang masih mengusung kuliner yang leluhur, namun sentuhan modern membuat aroma dan rasanya berkurang.

Menariknya, di tengah gempuran makanan cepat saji dan terus berkembangnya pergaulan global, masih ada segelintir penerus yang mencoba bertahan dengan keaslian cita rasa yang turun temurun itu. Meskipun, bisa dikatakan hanya dihitung jari saja.

Pengolahan makanan dengan bahan atau alat konvensional pun sebagian masih ada yang bertahan memanfaatkannya. Mempertahankan keaslian rasa menjadi alasan utamanya.

Yulianti Tanyadji salah satu yang terlibat dalam pengelolaan sajian kue tradisional Sulsel dengan bahan konvensional mengungkapkan, beberapa hal tidak dapat dikerjakan menggunakan mesin. Yulianti adalah pegiat makanan dan panganan tradisional seperti Apamparanggi.

Apamparanggi adalah salah satu kue yang masih sangat tradisional. Pengolahannya menggunakan cetakan besi dan penutup (palakko) dari tanah liat. Alatnya, masih banyak didapatkan di pasaran.

“Beberapa jenis kue rasanya tidak akan sama tanpa alat konvensional. Kami mempertahankan keaslian resep dan bahan dasar. Misalnya, apamparanggi yang punya aroma khas ketika masih hangat keluar dari cetakan,” ungkapnya.

Bahkan, kuliner tradisional Coto Makassar juga masih banyak ditemui menggunakan metode memasak konvensional. Salah satunya di pemilik Warung Coto, Ramli Daeng Mumang. Dia konsisten menggunakan tungku.

Daeng Ramli sapaan akrabnya mengutarakan, memasak pakai kayu bakar dan tungku adalah ciri khas warungnya. Meski terbilang kuno, namun ia dan sang istri tetap bertahan di tengah banyaknya peralatan memasak yang modern.

“Kami akan terus bertahan menggunakan tungku dan kayu jati karena sudah terbiasa. Kayu dibeli atau didapatkan secara gratis dari limbah bangunan,” terangnya.

Saenab, pemilik warung coto di Jalan Batua Raya juga mengatakan, dia bertahan memanfaatkan kayu bakar sebagai sumber api. Batang kayu bakau tepatnya.

“Kalau pakai kompor modern aromanya berbeda. Saya mau mempertahankan cita rasanya. Karena orang tua kita dahulu itu pakai begitu yang lebih tradisional,” terangnya.

Saenab menuturkan, kayu bakau yang ia gunakan sebagai khasnya didapatkan dari Kabupaten Takalar. Di sana, kata dia, ada lahan khusus yang dikelola masyarakat untuk pengembangan bakau.

“Susah juga sebenarnya kalau pakai kayu bakau. Harga perbatang saja Rp4 ribu. Dalam sehari biasa menghabiskan 10 sampai 15 batang. Dalam sebulan khusus kayu bakar ini habis sekitar Rp2 juta,” tutur ibu dua anak itu.

Pengamat Ekonomi Unhas, Anas Iswanto Anwar mengatakan, makanan tradisional khas Sulsel sebetulnya memiliki nilai jual lebih. Hanya saja dilematisnya, masyarakat Sulsel sendiri yang tidak serius melestarikannya, dengan hadirnya makanan-makanan modern dari luar.

“Kondisinya saat ini kelas menengah memang yang tergerus dengan gaya life style-nya tinggi. Cenderung mau dilihat keren dengan makan makanan luar negeri,” nilainya,

Dengan perubahan gaya hidup seperti ini, Ketua Prodi Doktor Ilmu Ekonomi FEB Unhas pun menjelaskan, memang perlu ada peran pemerintah untuk melestarikan makanan khas Sulsel ini. “Coba misalkan saat rapat menghidangkan makanan tradisional. Jadi dimulai dari diri sediri dahulu,” terangnya.

Cara lainnya, pemda juga bisa menerapkan aturan di setiap hotel agar mewajibkan menghidangkan beberapa persen makanan tradisonal. “Bayangkan sekarang pas menikah pi baru bisa ki dapat itu makanan tradisional. Hari biasa mana ada. Padahal orang-orang luar banyak yang cari,” serunya. (*)

Penulis : SULKIPLY- ISMAN-ABADI
Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...