Tahun 2020, Peluang User Dapat Rumah Subsidi

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — 2020 bisa menjadi peluang bagi calon user rumah subsidi. Pemerintah akan menambah kuota dan anggarannya.

RENCANANYA, tahun depan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengalokasikan anggaran untuk subsidi perumahan dengan bunga murah sebanyak Rp9 triliun.

Jika diestimasi, alokasi anggaran tersebut cukup untuk 102.000 unit rumah subsidi se-Indonesia. Jika dibandingkan kuota 2019, kuota rumah subsidi tahun depan bertambah 34 ribu unit.

Tahun ini, kuotanya hanya 68.000 unit. Anggarannya Rp7,1 triliun. Jika tahun depan pemerintah merealisasikan anggaran Rp9 triliun, artinya ada tambahan Rp1,9 triliun alias nyaris Rp2 triliun. Mestinya, dengan angka begitu, sektor properti bisa bergerak lebih baik tahun depan.

Belum Cukup

Hanya saja, Real Estate Indonesia (REI) meminta agar ada evaluasi anggaran subsidi perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Jatah subsidi tahun depan dinilai masih minim.

DPP REI mengagendakan pertemuan dengan Komisi V DPR untuk membahas alokasi anggaran tersebut. Ada usulan untuk melakukan evaluasi, agar alokasi anggaran untuk subsidi perumahan bisa lebih besar lagi.

Wakil Ketua DPP REI Arief Mone mengatakan lewat pertemuan ini pihaknya berharap ada perbaikan dari segi anggaran. Tahun ini, jatah anggaran mereka juga minim hanya Rp7,1 triliun lalu.

Anggaran Rp7,1 triliun, sudah habis pada pertengahan tahun, yakni pada Juli. Sementara tahun depan, dia memprediksi jatah anggaran serupa akan habis hanya dalam kurun empat bulan saja. Penyebabnya, banyak antrean pengembang.

“Anggaran untuk subsidi kredit perumahan bagi MBR ini tak pernah dua digit. Padahal ini kebutuhan dasar masyarakat. Memberikan bunga murah, lewat tambahan subsidi dari pemerintah,” ungkap Arif Mone kepada FAJAR, Minggu, 10 November.

Mayoritas pengembang saat ini menjerit. Mereka berlomba untuk mengambil anggaran subsidi yang jumlahnya kecil. Di sisi lain, pengembang juga harus memenuhi target pembangunan perumahan subsidi untuk masyarakat. Belum lagi pasar subsidi cukup potensial.

Tahun ini, khusus Sulsel, developer telah membangun 20 ribu unit rumah subsidi. “Untuk tahun depan kami belum tau, berapa yang bisa kami bangun. Kami ditarget 25 ribu unit,” tambah mantan Ketua REI Sulsel ini.

Atensi DPR

Anggota Komisi V DPR RI, Muhammad Aras mengatakan, pihaknya baru akan membahas persoalan ini bersama REI. “Rencananya kami juga undang Kementerian PUPR. Persoalan ini penting karena menyangkut masalah perumahan,” tambahnya.

Kepala Satker Penyedia Perumahan Kementerian PUPR Wilayah Sulsel, Andi Mappalagau Tantu mengatakan, sejauh ini belum ada kepastian anggaran untuk jatah subsidi perumahan di Sulsel. Mereka masih menuggu petunjuk pusat berkaitan dengan hal tersebut.

Selain subsidi, ada pula anggaran untuk pembangunan sarana dan prasarana. “Tahun ini ada 20 pengembang yang dapat bantuan sarana dan prasarana. Untuk tahun depan kami masih menunggu jatah anggaran dari pusat,” katanya.

Pernah Janji

Pemerintah pernah menjanjikan tambahan 80 ribu unit hunian bersubsidi, namun hingga November tahun ini janji tersebut tak kunjung terealisasi. Janji palsu ini pun diharapkan para pengembang Sulsel tidak terjadi tahun depan.

Ketua DPD REI Sulsel, M Sadiq mengaku, target 25 ribu unit tahun ini bakal sulit terealisasi karena kuota hunian subsidi, khususnya fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) tak kunjung kucur.

“Realisasi kami September kemarin masih di angka 18 Ribu. Sekarang 1.000 unit masih ada,” kata Sadiq, Minggu, 10 November.

Nah, dengan banyaknya unit yang masih menggantung, bos Zarindah Group ini berharap agar pemerintah peka melihat kondisi ini. Minimal masa sulit tahun ini tidak terjadi tahun depan.

FLPP Idola

Wakil Ketua Bidang Promosi dan Pameran REI Sulsel, Mustajab Mudji mengharapkan, agar mulai dari sekarang pemerintah sudah menyiapkan berapa kuota rumah subsidi tahun depan, khususnya skema FLPP yang banyak digemari user.

“Jadi biar awal tahun kita sudah langsung bisa jalan,” jelasnya.

Direktur Utama PT Togika Graha Bakti ini menekankan, agar kuota tahun depan juga harus ada kejelasan. Sehingga para pengembang sudah bisa mengambil ancang-ancang jauh hari berapa unit yang bakal dibangun.

“Jangan sampai kita sudah terlanjur beli lahan, terus tidak bisa kita bangun karena keterbatasan kuota. Kita kan tidak mau nilai investasi kita terlalu lama tinggal, harus segera berputar,” paparnya.

Menyoal berapa kuota yang dibutuhkan, REI Sulsel tidak muluk-muluk. Minimal targetnya sama dengan tahun ini.

“Kalau dari REI sendiri paling sama (tahun ini). Karena kalau ditingkatkan, khawatirnya tidak terserap karena keterbatasan kuota itu. Seperti sekarang ini saja tidak bisa dijual semua, karena alokasi FLPP yang terbatas,” jelasnya.

Pun tahun depan, jika memang kuotanya lebih sedikit, maka minimal bisa diketahui kuotanya bisa bertahan sampai di bulan berapa.

“Jadi sejak awal tahun kita sudah bisa prepare bahwa rumah subsidi FLPP mampu bertahan sampai Juni. Paling tidak Juli-Agustus kita sudah bisa ancang-ancang pakai model (skema) lain. Tidak di-PHP,” kuncinya.

Skema FLPP ini memang menjadi pilihan utama bagi para user, berbeda dengan BP2BT, realisasinya masih sangat minim dengan syarat yang lebih banyak dan angsurannya tidak flat seperti FLPP. (ful-tam/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...