Hidup Sebatangkara, Nenek Isa Tinggal di Rumah Reyot Beratap Terpal

0 Komentar

Nenek Isa dan rumah reyot yang ditempati. (FOTO: ARINI/FAJAR)

FAJAR.CO.ID, MAROS — Seorang warga Lingkungan Butta Toa Selatan, Kelurahan Pettuadae Kecamatan Turikale Kabupaten Maros, Nenek Isa (80), hidup sebatang kara di gubuk reyot beratapkan terpal.

Pantauan FAJAR, tampak rumah Nenek Isa berukuran 3×3 meter ini dindingnya terbuat dari seng bekas.

Sehari-hari Nenek Isa yang tak memiliki pekerjaan hanya bertahan hidup dari belas kasih tetangganya.

“Tidak ada pekerjaanku Nak. Kalau ada yang kasika uang belika lagi beras. Itumi kumakan,” kata Nenek Isa.

Ia mengaku sudah dua tahun lebih tinggal di gubuk reyot yang dibangun di atas tanah milik warga yang mengasihaninya.

“Dulu ini tempat penyimpanan kayu milik Dg Supu, kebetulan dia pembuat perabot. Tetapi karena sudah tak ditempati saya dibolehkan tinggal di sini. Saya bangun pakai seng bekas pemberian sama papan dibantu sama sepupu,” katanya.

Nenek Isa mengaku sebelum suami dan anaknya meninggal ia tinggal di Daya.

“Dulu saya bantu suami jual daun sirih dan saya tinggal di Daya. Tetapi setelah meninggal saya pulang ke Maros,” akunya.

Isa mengaku malu jika harus menumpang di rumah keluarganya sehingga ia lebih memilih tinggal seorang diri di gubuk reyot. “Biar kecil tapi bagus juga kalau sendiri,” akunya.

Nenek Isa juga mengaku senang bisa tinggal di gubuk yang hanya berukuran 3×3 meter itu. Sebab ia tak memiliki uang untuk mengontrak.

“Tidak ada uang untuk kontrak, karena sehari-hari saja susah,” sebutnya.

Bahkan, sehari-hari saja ia memasak dengan tungku dan kayu. Karena tak memiliki uang untuk membeli elpiji.

“Kalau kayu kan banyak dan gampang dicari,” sebutnya.

Mengenai bantuan, ia mengaku pernah mendapat rastra dua tahun lalu. Tetapi hingga saat ini tak pernah lagi mendapat bantuan.

“Sudah dua tahun tidak dapat, kartu juga tidak ada. Ya kalau sakit paling beli obat di toko saja,” sebutnya.

Hanya saja, saat hujan turun disertai angin kencang ia terpaksa lari meninggalkan rumahnya.

“Biasa kalau keras angin larika ke rumahnya tetangga. Ku tinggalkan rumahku,” katanya. (rin)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...