Berpakaian Ojol, Pelaku Bom Polrestabes Medan Ternyata Sudah Dua Tahun Berhenti

0 Komentar

Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan Budi Setiadi merespon peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Mapolrestabes Medan, Sumatera Utara, Kamis (14/11). (Muhammad Ridwan/JawaPos.com)

FAJAR.CO.ID — Merespons terkait pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan pada Rabu (13/11) kemarin, Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setiadi, ikut angkat bicara.

Menurutya, Rabbial Muslim Nasution (RMN) pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan tidak ada kaitannya dengan aplikator ojek online (ojol).

RMN sudah berhenti sebagai mitra ojol sejak dua tahun lalu. Meski pun, RMN terlihat memakai jaket ojol ketika memasuki kawasan Mapolrestabes Medan.

“Sudah dua tahun lalu berhenti menjalani provesi driver ojol. Jadi artinya memang tidak ada kaitan langsung bahwa pelaku pengemudi ojol,” kata Budi di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (14/11).

Budi menuturkan, jaket berlogo ojol merupakan identitas mitra atau pengemudi ojol untuk melakukan aktivitasnya. Bahkan, jaket tersebut merupakan bentuk perlindungan dari aplikator terhadap mitranya.

“Karena itu bentuk kepedulian kita jadi aplikator perlindung keselamatan, kalau dia jatuh tubuhnya terlindung jaket. Fungsi jaket untuk perlindungan pada malam hari kan ada stiker reflektor yang beri info pengendara dari belakang bahwa ada pengemudi,” ucap Budi.

Kendati demikian, Budi menyebut sangat mudah untuk mendapat jaket ojol. Oleh karenanya, Budi ingin menyarankan agar jaket tersebut mempunyai identitas pribadi.

“Kita lihat sekarang di Pasar Senen juga bisa didapatkan. Jadi saya mengusulkan, akan kita masukkan regulasi jaket itu sebagai identitas dan kewajiban untuk perlindungan aspek keselamatan untuk memudahkan Polri melakukan identitas pengusutan. Saya akan usulkan jaket itu bukan sebuah properti yang bisa dimiliki secara pribadi,” jelas Budi. (rls)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...