Mappalili, Tradisi Kuno Kaum Bissu di Pangkep

0 Komentar

KEKHASAN DAERAH. Bissu di Arajang Kecamatan Segeri menggelar ritual adat mappalili. (SAKINAH/FAJAR)

Mereka memahami harmoni alam. Tak menimbulkan kegaduhan, namun terus melirikkan doa-doa kebaikan.

Laporan: SAKINAH FITRIANTI

FAJAR.CO.ID — November menjadi bulan dimulainya turun sawah untuk persiapan masuk masa tanam. Bagi masyarakat Kecamatan Segeri, memulai masa tanam padi, biasanya diawali dengan tradisi mappalili.

Dalam bahasa Bugis, mappalili diartikan sebagai tanda dimulainya masa tanam. Ada serangkaian ritual yang dipimpin langsung Puang Matoa, sebutan bagi pimpinan bissu, kelompok khas di Pangkep.

Dalam tradisi mereka, bissu diamanahi sebagai pelaksana ritual. Dilakukan secara turun temurun. Dimulai pada malam hari, para bissu melakukan matteddu arajang. Ini diartikan sebagai membangunkan benda pusaka.
Arajang diakui oleh bissu dan masyarakat sekitar sebagai benda pusaka berupa kayu yang datangnya dari langit. Mappalili dimulai dari rumah adat arajang itu. Kayu ituilah yang dibawa juga berjalan sepanjang jalan mulai dari rumah arajang di Kelurahan Bonto Matene hingga ke Kelurahan Bawasalo.

Sebagai benda tradisi, arajang ini sangat dijaga. Saat mattedu arajang, para bissu memulai ritual dengan diiringi tabuhan gendang dan mantera khas. Lalu, mereka kemudian melakukan ritual maggiri.

Maggiri ini selalu menarik perhatian. Selalu dilakukan setiap upacara adat diselenggarakan. Tarian maggiri ini dilakukan para bissu dengan menusukkan keris ke tangan, perut, leher, dan pergelangan tangan.

Para bissu ini terlihat kebal terhadap senjata tajam yang ditusukkan ke tubuh. Itu dilakukan sambil berjalan, duduk, dan kadang mengentakkan kaki dengan keras.

Semalaman menyambut hari mappalili, bissu itu terus melantunkan mantera dan menabuh gendang. Tibalah pada hari puncak mappalili, diwarnai dengan istilah Makecce-kecce atau diartikan menyiram.

Masyarakat Segeri, hari itu, sudah berdiri di depan rumahnya masing-masing. Mereka menyediakan ember-ember yang berisi air. Sengaja disiapkan untuk menyiram rombongan bissu yang melintas.

Prosesi adat ini dissambut suka cita masyarakat, sambil menunggu momen saling menyiram air. Bahkan pada musim kemarau yang sulit air, masyarakat tetap menyiapkan air untuk menyiram rombongan bissu dan semua yang melintas di sepanjang jalan.

Dalam tradisi mereka, bissu diamanahi sebagai pelaksana ritual (Foto: Sakina/FAJAR).

Turun dari rumah arajang, sejumlah anak-anak ikut membawa bendera menyambut turunnya Puang Matoa, bissu yang digelari Puang Matoa saat ini. Puang Matoa turun mengenakan pakaian putih. Dipayungi bak raja, dengan diiringi bendera berbagai warna. Ada putih, merah dan kuning.

Secara teratur anak-anak yang membawa bendera ini, kemudian diikuti Puang Matoa. Di belakangnya juga ada bissu lain yang ikut ritual ini. Tidak sekadar berjalan, rombongan bissu yang berjalan kaki ini bersama masyarakat Segeri diiringi alunan alat musik yang didendangkan sepanjang jalan.

Masyarakat terlihat sangat menyambut gembira datangnya rombongan yang dipimpin Puang Matoa ini. Rombongan ini berjalan menuju sawah yang terletak di Kelurahan Bawasalo. Disana ada ritual majori, atau menggaris tanah di persawahan itu.

Di tempat itu juga dilakukan lagi ritual maccera atau menyembelih ayam sebagai simbol kesyukuran. Sekaligus tanda dimulainya persiapan turun sawah. Di salah satu sawah, Puang Matoa kembali menggelar ritual maggiri.

Kepulangan Puang Matoa dari sawah juga tetap ditunggu warga di sepanjang jalan. Mereka sudah siap menyiram semua orang yang melintas di jalan itu. Tak mengenal siapa, warga sekitar langsung menyiram begitu saja.

Baik pejabat, anak kecil, dan semua yang melintas pasti basah akibat disiram warga sekitar. Air memang menyimbolkan keberkahan. Bahkan setiap mobil yang melintas pun disiram juga.

“Sehingga nanti (diharapkan) hasil panennya bisa melimpah dan tidak kekurangan air,” ucap, Andi Karlina salah seorang warga Kecamatan Segeri.

Ia juga mengatakan siram-siraman ini sudah rutin dilakukan tiap tahun. Antusias warga juga sangat tinggi atas lestarinya tradisi ini. “Ini seru juga karena semua warga saling berbaur saat saling siram ini,” katanya.

Sekitar 10 kilometer jalan yang ditempuh Puang Matoa beserta iring-iringannya. Tak terlihat rasa lelah. Setiap warga ingin air yang disiramnya mengenai langsung Puang Matoa.

Setelah berjalan, Puang Matoa kembali ke arajang. Di sana dilakukan ritual maggiri dan pencucian kayu arajang di depan rumah arajang itu.

Kepala Dinas Pariwisata Pangkep, Ahmad Djamaan mengaku, mappalili sebagai tradisi awal mula turun sawah dianggap sebagai upaya melestarikan budaya dan adat istiadat di Pangkep.

“Ritual adat mapappalili ini sudah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya tak berbenda di Kabupaten Pangkep oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ini juga sebagai ikon pariwisata budaya Kabupaten Pangkep sebagai tanda untuk dimulainya musim tanam padi tahun ini,” paparnya.

Ia menjelaskan, dalam prosesi ritual adat mappalili segeri ini melibatkan bissu Arajang Segeri yang dikoordinasi Puang Matoa Bissu Wa Nani. Ada tiga tahapan atraksi budaya, yaitu mattedu arajang, mangngalu dan majjori.

“Ke depannya, ada tradisi dan aktivitas bissu ini akan dielaborasi sebagai atraksi wisata budaya dengan tema Kampung Bissu yang berpusat di rumah Arajang Segeri. Kita melihat maknanya sangat besar, masyarakat sangat bergembira menyambut ritual seperti ini, mereka juga berharap saat tanam nanti padi akan diguyur hujan sehingga hasilnya maksimal,” bebernya. (*/abg-zuk)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...