Mahasiswa Gunakan Panah, Bentrok dengan Polisi

Demonstran Hongkong yang merupakan mahasiwa menggunakan panah saat bentrok dengan polisi (ANTHONY WALLACE / AFP)

FAJAR.CO.ID--Tiongkok boleh saja percaya kepada Carrie Lam bahwa chief executive Hongkong itu bisa menyelesaikan krisis di wilayahnya. Namun, fakta berkata lain.

Bukannya mereda, kini wilayah tersebut justru kian membara. Blokade, vandalisme, dan bentrokan terjadi di berbagai titik.

Itu memang taktik baru yang dipakai demonstran. Dulu mereka menggunakan strategi dengan istilah be water alias jadilah seperti air. Yaitu, demonstran muncul di satu lokasi dan dengan cepat menghilang, pindah ke lokasi lainnya.

Kereta bawah tanah menjadi moda transportasi utama demonstran untuk berpindah lokasi dengan cepat. Kini strateginya diganti dengan blossom everywhere alias mekar di mana-mana. Demo terjadi di semua lokasi secara bersamaan.

Seluruh lembaga pendidikan diminta libur sampai Kamis (14/11) dengan alasan keamanan. Pusat-pusat perbelanjaan sudah jauh hari memilih tutup. Demonstran meletakkan batu, sepeda, kursi, dan berbagai benda yang bisa mereka dapatkan di jalan-jalan arteri.

Para pekerja yang berangkat dan pulang kerja menjadi target. Layanan kereta bawah tanah juga dihentikan sementara. Padahal, biasanya separo di antara 7,5 juta penduduk Hongkong menggunakannya setiap hari.

Meski blokade itu menyusahkan, para pekerja di Hongkong tampaknya tak sakit hati dengan para demonstran. Mereka satu suara. Saat jam makan siang kemarin, para pekerja juga ikut turun ke jalan di Distrik Central. Beberapa di antaranya membawa spanduk bertulisan ”Jangan tembak para pemuda kami!”

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Edy Arsyad


Comment

Loading...