Meski Elektabilitas Tinggi, Tiga Tokoh Ini Tak Akan Diusung Demokrat di Pilkada 2020

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Partai Demokrat memastikan tak akan mengusung beberapa kadernya yang loncat partai setelah berhasil menduduki kursi kepala daerah. Sekalipun, elektabilitasnya tinggi.

Setidaknya ada tiga kader Demokrat yang membelot dan bergabung dengan partai lain setelah terpilih. Yakni eks Sekretaris DPD Partai Demokrat Sulsel, Syamsul Rizal (Ical), Wakil Bupati Bulukumba, Tomy Satria Yulianto, dan Wakil Bupati Tana Toraja, Victor Datuan Batara.

Ical dan Victor meninggalkan Beringin dan berlabuh ke Partai Golkar. Sedangkan, Tomy Satria hijrah ke Partai Nasdem. Tiga eks kader Demokrat ini sama-sama akan kembali berebut rekomendasi partai untuk Pilkada 2020. Elektabilitasnya cukup tinggi, namun dipastikan tak akan dilirik lagi Partai Demokrat.

Ketua DPD Demokrat Sulsel, Ni’matullah mengatakan, partainya tidak akan mengusung mereka yang terbukti pindah partai setelah duduk di kursi kepala daerah. Bahkan, kata dia, Demokrat akan sangat selektif dalam memberikan dukungan pada pilkada tahun depan. Baik kader maupun non kader.

“Seharusnya mereka menjaga komitmen dan kata-katanya. Tetapi menurut saya, yang seperti ini tidak akan panjang. Artinya, ia hanya berada di level itu terus. Makanya, tidak akan diusung. Itu sudah kami tegasnya,” beber Wakil Ketua DPRD Sulsel itu.

Lebih lanjut dia mengatakan, partai tidak bisa berbuat banyak selain komitmen dan kepercayaan. Partai pun tidak akan membuat aturan tambahan saat pengusungan karena dikhawatirkan justru akan melanggar. “Ini soal kepercayaan dan komitmen saja. Artinya, jika dilanggar, publik akan tahu dan biarlah sanksi sosial yang mereka dapatkan,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris DPW Nasdem Sulsel, Syaharuddin Alrif justru mengaku sangat yakin para kadernya tetap komitmen bersama. “Itu sudah menjadi komitmen tetapi tidak tertulis. Kami melihat tidak ada kader Nasdem yang seperti itu,” katanya.

Pengamat Politik Unhas, Adi Suryadi Culla menguraikan beragam alasan terjadinya fenomena tersebut. Mulai dari konflik internal hingga godaan dari partai penguasa sekarang ini. “Salah satunya godaan dari eksternal lebih kuat, sehingga komitmen dengan partainya gampang goyah,” katanya.

Selain Demokrat partai lain yang ditinggalkan kadernya setelah terpilih antara lain, Bupati Selayar, Basli Ali
yang pindag dari Gerindra lalu bergabung Golkar, Bupati Lutra, Indah Putri Indriani juga meninggalkan Partai Gerindra.

Demikian juga, Wakil Bupati Lutra, Thahar Rum yang beralih dari Gerindra ke Nasdem, Bupati Enrekang, Muslimin Bando, loncat dari PAN ke Golkar, dan terbaru, Bupati Takalar, Syamsari Kitta lebih memilih meninggalkan PKS untuk bersama-sama Anis Matta di Partai Gelora. (taq/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...