Tifatul Sembiring Mulai Khawatir Partai Gelora Indonesia Acak-acak Kader PKS

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia sudah resmi didirikan. Namun, belum dideklarasikan. Karena masih menunggu pengesahan dari Kemenkumham. Sejumlah kader PKS disebut-sebut lompat ke partai baru yang didirikan oleh Anis Matta dan Fahri Hamzah tersebut. Hal ini membuat elite PKS gerah.

Beberapa kader diketahui sudah bergabung ke Partai Gelora. PKS pun sudah memonitor hal itu. Anggota Komisi VII DPR RI, Tifatul Sembiring, menyatakan hingga kini belum ada pemecatan kader PKS terkait berdirinya Partai Gelora. “Sampai saat ini belum ada pemecatan. Paling diturunkan dalam peringkat anggota,” ujar Tifatul di Jakarta, Kamis (14/11).

Menurutnya, wajar biasa jika ada anggota keluar-masuk dalam partai politik (parpol). Namun, dia menilai tidak etis jika ada kader yang bergabung menjadi anggota di dua parpol berbeda. Tifatul tidak mempersoalkan berdirinya Partai Gelora dipimpin mantan elit PKS, Anis Matta dan Fahri Hamzah. Namun, dia meminta agar PKS tidak diacak-acak. “Bagi saya kalau mereka buat partai baru silakan saja. Tapi jangan acak-acak yang di sini,” paparnya.

Selain itu, dia juga mempersilakan anggota PKS yang memilih bergabung ke Partai Gelora. Namun, harus keluar dari keanggotaan PKS. Dia tidak mau ada anggota yang main dua kaki.

Mantan Menkominfo itu mencontohkan politisi Partai Demokrat Deddy Mizwar yang bergabung dengan Partai Gelora. Menurutnya, hal itu jelas membuat Demokrat tersinggung. Dia menyarankan Partai Gelora meniru Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang memilih orang-orang baru dengan ide-ide baru. Tujuannya agar tidak menimbulkan konfrontasi dengan parpol manapun.

Hal senada disampaikan Ketua Majelis Syuro PKS, Salim Segaf Al Jufri. Dia meminta jika ada kader PKS yang memiliki masalah internal, agar tidak meninggalkan partai. “Kalau ada ketidakcocokan terjadi di antara kita, penyelesaiannya bukan keluar atau buat partai baru. Kalau ada krisis hati penyelesaiannya kembali kepada hati. Perlu kesabaran,” kata Salim.

Sementara itu, pengamat politik Paramadina Public Policy Institute (PPPI), Ahmad Khoirul Umam menilai Partai Gelora Indonesia harus dapat membedakan diri dari PKS. Baik dari aspek karakter pergerakan, identitas ideologis, visi-misi, dan platform kepartaian, hingga logistik.

Dia menilai sepak terjang partai yang digawangi mantan elit PKS, seperti Anis Matta dan Fahri Hamzah itu patut dicermati. Di internal PKS sudah tampak ada orientasi dan arah perilaku politik yang berbeda. Yakni terbagi dua faksi. Yaitu faksi keadilan yang dianggap lebih ideologis dan faksi kesejahteraan yang lebih berorientasi pada ekonomi.

“Anis Matta dan Fahri Hamzah identik sebagai faksi kesejahteraan. Sementara senior-senior seperti Hidayat Nur Wahid identik dengan faksi keadilan. Itu hanya idiom saja. Langkah perilaku politik mereka ke depan yang akan mengonfirmasi di bagian mana mereka akan berposisi,” jelasnya.

Selain itu, kemampuan Partai Gelora membedakan diri dari PKS akan menentukan kemampuan bertahan dan lolos ambang batas parlemen (parliamentary thresshold) pada Pemilu 2024. “Tapi kalau Partai Gelora hanya menduplikasi apa yang dilakukan PKS, kecil kemungkinan bisa bertahan. Karena ceruk massa dan logistiknya akan disedot oleh PKS,” papar dosen Ilmu Politik di Universitas Paramadina itu. (fin)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...