Tradisi Ma’sawa Dipercaya Sebagai Pattola Bala dan Doa Meminta Hujan

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, WATAMPONE — Mereka merawat tradisi leluhur. Menjaga budaya ma’sawa (lipa-lipa). Dipercaya sebagai pattola bala (terlindung dari bahaya) dan doa untuk meminta hujan.

Tradisi itu hanya berlangsung di Kecamatan Lamuru, Kabupaten Bone. Dari desa ke desa. Namun, tidak semua desa. Hanya Desa Turucinnae, Desa Mamminasae, Desa Mattampa Bulu, dan Desa Sengenpalie.

Biasanya acara itu dimulai di Desa Turucinnae, dan terakhir di Desa Mamminasae. Tepatnya di Lappapaobeddae, Dusun Bompo. Warga dari luar akan berbondong-bondong mendatangi kampung tersebut. Mereka bergotong royong untuk membuat sawa.

Ada kurang lebih 1.000 lipa-lipa dalam setiap rumahnya. Ada lebih 100 rumah yang melakukan hal seperti itu di dusun tersebut.

Para pemilik rumah sudah menyiapkan daun kelapa yang masih muda, dan beras. Tinggal diisi dan diikat saja. Para ibu-ibu begitu riang dengan acara itu. Ada banyak canda tawa, cerita dulu, hingga silsilah keluarga dibahas. Bukan gosip.

Saat mengerjakan sawa, memerlukan proses yang begitu panjang. Duduk seharian. Ada yang bertugas menggunting daun, mengisinya dengan beras, mengikatnya. Begitu rumit.

Di masak pun bukan waktu yang singkat, dan harus dijaga terus. Dari pukul 18.00 Wita hingga pukul 02.31 Wita dini hari harus terjaga. Setiap saat harus dicek, apakah airnya kurang. Jika kurang ditambah lagi.

Tokoh Masyarakat Dusun Bompo, Nurmang menceritakan, tradisi ini sudah ada sejak era orde lama, atau mulai dari Ir Soekarno Presiden. “Tujuannya sebagai doa keselamatan untuk pemerintah, dan orang yang diperintah. Ini sudah adat. Passappo wanua atau pattola bala,” katanya kepada FAJAR Kamis, 14 November.

Kata dia, setiap rumah bebas mau berapa. Namun kalau lima orang di rumah diwajibkan minimal 10 lipa-lipa per orang. Ketika semua sudah selesai, pasti kampung tersebut bakal ramai. Ada banyak tamu yang datang. “Lorong ini nantinya sangat ramai, dan macet oleh tamu yang datang,” kata lelaki yang berusia 55 tahun itu.

Dia menjelaskan, tradisi ini sudah turun temurun. Namun tidak sembarang orang untuk membacakan doa selamat. Hanya orang tertentu. Dilakukan sebelum memulai menanam jagung dan padi.

“Sudah banyak pendahulu saya yang membacakan doa. Saya sejak 1998 mulai kerja ini. Dan jika hujan turun kita sudah akan langsung tanam jagung dan setelah itu bajak sawah,” ucap ayah tiga anak itu. (gun/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...