Tradisi Ma’sawa Dipercaya Sebagai Pattola Bala dan Doa Meminta Hujan

FAJAR.CO.ID, WATAMPONE -- Mereka merawat tradisi leluhur. Menjaga budaya ma'sawa (lipa-lipa). Dipercaya sebagai pattola bala (terlindung dari bahaya) dan doa untuk meminta hujan.

Tradisi itu hanya berlangsung di Kecamatan Lamuru, Kabupaten Bone. Dari desa ke desa. Namun, tidak semua desa. Hanya Desa Turucinnae, Desa Mamminasae, Desa Mattampa Bulu, dan Desa Sengenpalie.

Biasanya acara itu dimulai di Desa Turucinnae, dan terakhir di Desa Mamminasae. Tepatnya di Lappapaobeddae, Dusun Bompo. Warga dari luar akan berbondong-bondong mendatangi kampung tersebut. Mereka bergotong royong untuk membuat sawa.

Ada kurang lebih 1.000 lipa-lipa dalam setiap rumahnya. Ada lebih 100 rumah yang melakukan hal seperti itu di dusun tersebut.

Para pemilik rumah sudah menyiapkan daun kelapa yang masih muda, dan beras. Tinggal diisi dan diikat saja. Para ibu-ibu begitu riang dengan acara itu. Ada banyak canda tawa, cerita dulu, hingga silsilah keluarga dibahas. Bukan gosip.

Saat mengerjakan sawa, memerlukan proses yang begitu panjang. Duduk seharian. Ada yang bertugas menggunting daun, mengisinya dengan beras, mengikatnya. Begitu rumit.

Di masak pun bukan waktu yang singkat, dan harus dijaga terus. Dari pukul 18.00 Wita hingga pukul 02.31 Wita dini hari harus terjaga. Setiap saat harus dicek, apakah airnya kurang. Jika kurang ditambah lagi.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Hamsah umar


Comment

Loading...